General Manager PT Angkasa Pura I cabang Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, Farid Indra Nugraha mengatakan, prestasi ini diraih karena sebelum dibangun sebesar sekarang, bandara yang dahulu bernama Sepinggan telah menjadi bandar udara yang memiliki model khas dan bertalenta.
“Kalau tidak salah, sejak 1994 atau 1995, ketika saya pertama kali ditempatkan di sini (Bandara SAMS), telah mendapat perhatian khusus direksi Angkasa Pura di era itu dan menjadi dasar pengembangan hingga sekarang,” kata Farid Indra Nugraha, Rabu (18/9).
Karakter masyarakat Balikpapan yang pluralis juga menjadi modal lain dalam mengedepankan pelayanan dirgantara. “Saya yakin, siapa pun yang menjadi leader, pemimpin di sini, kekuatan itu tidak akan tergoyahkan dan potensinya akan lebih baik lagi,” ucapnya.
Untuk mendapatkan predikat terbaik dari ACI, menurut Farid, sangat tidak mudah, prosesnya tidak singkat dan penilaian serta persaingan juga sangat ketat. Pasalnya, ada lima bandara yang dikelola AP2 memiliki nilai tertinggi, namun tidak diundang ke Kanada.
“Itu artinya, penghargaan diberikan bukan berdasarkan nilai saja. Tapi proses dari pengidentifikasian. Kalau tidak menjalani syarat dan perangkat yang harus ditetapkan, prestasi ini tentu juga tidak kami dapatkan,” ujarnya.
Terlebih, tim dari ACI juga rutin melakukan pengecekan secara langsung terhadap ratusan bandara yang menjadi anggota organisasi tersebut. Termasuk meminta penilaian pengalaman keberangkatan terhadap para penumpang maskapai secara objektif dan tanpa diketahui AP1.
“Ini juga menjadi pengakuan, bahwa mereka (ACI) memandang Bandara SAMS Sepinggan ini sebagai salah satu bandar udara terbaik di dunia. Ukurannya juga 5 juta sampai 15 juta penumpang per tahuh. Itu angka fantastis,” sebut Farid.
Metode penilaian itu diakui sangat berbeda dengan tingkat nasional. Meski Bandara SAMS Sepinggan juga mendapatkan penghargaan Prima Utama sebagai bandara internasional yang diserahkan Menteri Perhubungan RI Budi Karya pada 17 September lalu.
“Semua bandara sebenarnya bisa mengikuti, tapi tentunya standar operasional dan sertifikasi menjadi ukuran. Dan kami telah lama mencoba untuk mengikuti standarisasi yang ditetapkan,” imbuhnya.
AP1 pun menginginkan semua temuan-temuan yang menjadi ukuran kekurangan penilaian harus ditindaklanjuti karena survei data yang dilaporkan oleh tim ACI dilakukan setiap per tiga bulan. Paling tidak nilainya bisa sama dengan inovasi-inovasi yang akan dikembangkan.
“Ada sih kekurangannya, tapi semakin kecil. Ibarat jaring laba-laba, modelnya sudah mendekati sempurna. Mungkin di fasilitas ya, makanya kami selalu melakukan improvisasi dan inovasi. Kalau untuk pelayanan, sudah jauh lebih baik,” pungkasnya.
Selain Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali juga menyabet tiga penghargaan. Termasuk Bandara Juanda Surabaya sebagai peringkat ketiga terbaik dunia untuk bandara berpenumpang 15 juta sampai 25 juta per tahun. (hn)