Datok Etam Mangkat
3 menit baca1.776 kali dibaca

TENGGARONG - Kabar duka menyelimuti Kota Raja, Tenggarong, Minggu (5/8). Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, H Adji Muhammad Salehuddin II meninggal dunia di usianya yang ke 93 tahun, Minggu (5/8) kemarin.
Cucu Sultan, Raden Dedi mengatakan Sultan yang dilahirkan di tanah Tenggarong, semasa jaman pemerintahan Hindia Belanda pada 24 Oktober 1924, wafat pada jam 10.00 WITA dan dipastikan meninggal dunia oleh RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong.
Sebelumnya, menurut Dedi, Sultan Kutai ke-21 itu dinyatakan meninggal di kediamannya pada 09.30 WITA dan dilarikan ke RSUD AM Parikesit untuk memastikannya. “Beliau meninggal pukul 09.30 WITA di rumah. Ternyata rumah sakit menyatakan masih ada denyut nadinya dan jam 10 dipastikan sudah tidak ada,” kata Dedi.
Dedi melanjutkan, Sultan yang dinobatkan pada 22 September 2001 itu pernah dirawat di rumah sakit kurang lebih 15 hari. Sebelum pembukaan Erau Adat Kutai, Sultan H Adji Muhammad Salehuddin II kesehatan membaik dan telah kembali kediamannya di Jalan S Parman, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong. Tapi kondisi fisiknya maih dalam kondisi lemah.
“Pada awal Erau sudah pulang ke rumah dan memang kondisinya lemah, kalau penyakit memang ada karena umur sudah 93,” ujarnya.
Pada pukul 11.30 WITA, jenazah dibawa ke Kedaton Kesultanan Kutai, Jalan Monumen Timur, Kecamatan Tenggarong untuk di semayamkan.
Kabar duka ini cepat menyebar. Sejumlah petinggi daerah termasuk Gubernur Awang Faroek Ishak tampak di rumah duka. Awang Faroek mengaku merasa kehilangan atas meninggalnya sosok Sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin IIyang merupakan tokoh terakhir kesultanan simbol budaya di Kalimantan. “Sultan itu seorang tokoh terakhir dari dinasti Kesultanan Kutai, tentunya merasa kehilangan,” kata Awang.
“Yang perlu diteladani dari sultan salah satunya adalah beliau sabar dan kemudian beliau adalah teladan yang baik daripada kita yang muda-muda ini beliau memberikan dorongan dan restu kepada siapa saja,” imbuhnya.
Gubernur Kaltim terpilih, Isran Noor memimpin pembacaan doa untuk mengiringi kepergian Sulatan. Isran juga merasakan kehilangan yang begitu besar. “Hubungan saya baik betul sama beliau, saya tentu sangat kehilangan sama sosok Sultan,” pungkasnya.
Kepala Kejaksanaan Negeri (Kejari) Kukar, Kasmin mengaku sangat kehilangan tokoh besar di Kukar karena sebagai HAM Salehuddin merupakan tokoh pemersatu Kukar yang sangat disenangi rakyat sehingga Kejari sangat kehilangan dengan kepergiannya.
“Sultan merupakan sosok panutan terlebih komunikasi dengan Kejari sangat baik sehingga kami sangat menghormatinya,” ungkapnya.
Kapolres Kukar, AKBP Anwar Haidar. “Kami turut berduka cita semoga amal ibadah semasa hidup diterima disisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Kami berduka mendalam karena beliau adalah tokoh di Kaltim,semangat hidup beliau sangat tinggi,” bebernya.
Ketua DPRD Kukar Salehuddin berharap dan mengajak semua masyarakat Kukar berdoa semoga Sultan kusnul khatimah, keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, kesabaran dan ketabahan.
“Kami berharap sepeninggal beliau, peran penting kesultanan tetap mewarnai dan berlanjut untuk pembangunan Kukar,” terangnya.
Saleh berharap siapapun pengganti Sultan kedepan bisa tetap menjaga semangat persatuan menjaga kehidupan yang bertoleransi sekaligus tetap menjadi figur pemersatu rakyat Kukar.
Tak ketinggalan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar Hifsi G Fahranas mengaku dirinya secara pribadi dan pimpinan OPD mengaku sangat kehilangan sosok yang menjadi panutan serta sosok yang menjadi orang tua. “Datok kita semua, saya berharap beliau diterima di sisi Allah dan mendapat sebaik-baiknya tempat. Kita harus tetap melanjutkan apa yang dirintis dan diupayakan beliau sehingga kita sekarang hidup berdampingan dengan aman dan penuh ketentraman,” katanya kepada Koran Kaltim kemarin.
Ketua DPRD Kaltim HM Syahrun menilai sosok Sultan adalah orangnya sederhana.
“Walaupun sebagai Sultan, tapi beliau selalu mengedepankan kesederhanaan. Tidak pernah menolak siapa saja yang ingin ketemu, cepat akrab sama orang dan ramah tamah,” kenang Alung-sapaan HM Syahrun.
Alung mengaku terahir bertemu atau silaturahmi kekediaman Sultan sebulan yang lalu.
“Saat ketemu beliau dia berpesan kepada saya, bahwa harus memegang amanah yang baik dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat,”sebut Alung.
Pemakaman baru akan dilaksanakan setelah kedatangan dua anak Sultan yang berada di luar pulau, jenazah akan di kebumikan di Makam Para Sultan, Kompleks Kedaton Kesultanan Kutai, Senin (6/8) hari ini. (hei/rf218/ami/sab)










