Sebelum dirawat di rumah sakit, Rifqi sempat dilarikan ke Puskesmas. Kata salah seorang ustaz tempat bocah malang itu menimba ilmu, hidung korban ditumbuhi bisul.
Namun, selang beberapa hari kemudian, Santi kembali ditelepon. Kali ini, ustaz mengabarkan Rifqi dirawat di rumah sakit.
Mendengar kabar itu, Hasim Lawida (44), ayah korban berangkat dari kediamannya di Kutai Timur ke Samarinda untuk mengecek kondisi kesehatan anak bungsu mereka. “Saat itu anak saya dalam keadaan pingsan,” katanya. Bocah yang bercita-cita menjadi pilot itu baru sadarkan diri pada Jumat (30/3).
Santi kemudian berusaha mencari tahu apa yang terjadi dengan putranya itu. Rifqi lalu bercerita jika ia dipukul oleh temannya, sesama santri di Ponpes Nabil Husein. “Dia mengaku dipukul temannya. Sekitar lima orang, tapi itu bertahap kejadiannya, tidak bersamaan,” urai Santi. Setelah mendapatkan keterangan Rifqi, Santi bergegas melapor ke Polresta Samarinda pada Jumat malam.
Keadaan Rifqi sempat membaik hingga Minggu (1/4) lalu. Ia bahkan sempat bertanya kepada orangtuanya kapan akan pulang.
Namun, takdir berkata lain. Kondisi kesehatannya kembali memburuk dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir Senin (2/4) sekitar pukul 05.20 Wita.
Atas kesepakatan keluarga, jenazah Rifqi diautopsi oleh dokter forensik untuk mengetahui penyebab kematiannya. Proses autopsi berlangsung sekitar empat jam, mulai sekitar pukul 12.00 Wita hinga 16.00 Wita. “Saya tidak mau merusak nama Pesantren Nabil Husein, saya tidak menuntut pesantrennya, tapi saya maunya pelakunya diproses hukum biar tidak melakukan perbuatan serupa lagi,” tukasnya.
Jenazah Rifqi kemudian dibawa rumah duka, Jl Tongkonan Rannu, Kelurahan Singa Gemmara, Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur, sekira pukul 17.45 Wita.
Pimpinan Ponpes Nabil Husein, Nasikhin berkata korban awalnya dirawat karena terkena bisul. Namun, ia menolak berkomentar lebih jauh karena masih fokus pada pemakaman korban.
Sementara terkait proses hukum di kepolisian, Nasikhin menuturkan jika hal tersebut masih berjalan. “Nanti kan diklarifikasi dulu,” ucapnya.
Wakil Kasat Reskrim Polresta Samarinda, AKP Ida Bagus Kadek Suta membenarkan kasus ini dalam penanganan kepolisian. “Itu sudah dilaporkan oleh ibu korban pada Jumat lalu, saat itu laporannya hanya penganiayaan. Sampai saat ini, kami telah memeriksa tiga orang saksi, mulai dari ibunya dan juga orang-orang dari pesantren tersebut,” paparnya. Polisi juga masih menunggu hasil autopsi dari dokter forensik untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban. (dor)