Pria paruh baya yang setengah usianya menjalani profesi sebagai sopir angkot tersebut mengatakan dengan masih beroperasinya angkutan sewa khusus (ASK) atau taksi online, menjadi bukti kegagalan pemerintah, memberikan rasa aman dan menjamin kesejahteraan masyarakat.
“Dengan adanya aplikasi online ini, Indonesia bukannya aman, tapi sedikit-sedikit demo, dimana-mana gesekan, artinya kan gagal dia menjadi menteri. Yang saya tuntut mundur adalah Menkominfo dan Menteri perhubungan, karena mereka tak becus,” tukasnya.
Ia mengaku, pada masa pencalonan Jokowi pada Pilpres 2014 silam, dirinya mennjadi penggerak massa khususnya para sopir, masyarakat kecil di Kaltim mendukung Jokowi. “Saya Ketua Relawan Aku Ra Popo, pendukung Jokowi. Dulu kami dukung Jokowi dengan penuh harapan, agar kesejahteraan masyarakat kecil, wong cilik bisa terjamin. Saya sekali lagi minta, 2 menteri itu mundur,” paparnya.
Ia menilai sejak hadirnya taksi online, para sopir semakain kesulitan mengais rejeki. Meski demikian, ia mengaku sama sekali tak membenci angkutan online, hanya saja peraturan yang diterpkan harus adil.
“Suara rakyat kecil harus didengar, karena dengan adanya aplikasi online ini anggota kami jadi kelaparan semua, susah kami mencari penghasilan, karena siapa saja orangnya kalo sudah berurusan sama perut bisa berbuat apa saja, saya tidak mau Indonesia ini menjadi kacau karena adanya aplikasi ini,” tandasnya. (rs)