Kilang Bontang, Dibangun 2019
2 menit baca18.996 kali dibaca

BONTANG – PT Pertamina (Persero) memastikan pembangunan Gras Root Rifenery (GRR) di Bontang, Kalimantan Timur akan dimulai 2019 mendatang. Kilang baru dengan kapasitas 300 barel per hari (bph) itu ditaksir menelan US$ 10 miliar atau Rp 130 triliun.
Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Ardhy M Mokobombang menjelaskan pembangunan kilang itu akan dimulai pada 2019 dan ditarget berproduksi pada 2025.
Pertamina menggandeng dua mitra stretegis dalam proyek itu, yakni Overseas Oil and Gas LLC (OOG), perusahaan asal Oman dan Cosmo Oil International Pte Ltd (COI) yang bereputasi refinance di Jepang.
Kesiapan OOG menggarap kilang baru ini bahkan didukung langsung oleh Kesultanan Oman. Sebagai negara Timur Tengah, Oman diketahui memiliki dana yang tebal.
Sementara COI, perusahaan asal Jepang ini akan men-support technical. Jepang dikenal dengan tehnologi yang maju.
“Kami berharap Wali Kota Bontang bisa men-support, karena proyek ini sangat besar,” kata Ardhy M Mokobombang dalam pertemuan dengan Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Kamis (1/2) di pendopo rumah jabatan Wali Kota Bontang.
Pertamina menginginkan tidak ada hambatan dalam proses perizinan megaproyek ini. Begitu juga dengan lahan, diharapkan bisa di-support Pemkot Bontang. Layaknya proyek lain, lahan biasanya menjadi kendala utama.
“Insya Allah kalau tidak ada hambatan tahun 2025 sudah bisa berproduksi, tetapi kalau bisa dipercepat maka kami usahakan,” ujarnya.
Proyek ini juga dipastikan akan menyerap banyak tenaga kerja, baik dalam proses pembangunanya maupun saat beroperasi.
“Tujuan dibangunnya kilang agar Indonesia tidak lagi mengimpor minyak untuk Bahan Bakar Minyak (BBM), tetapi justru mengekspor untuk mendukung industri petrokimia,” tuturnya.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni justru meminta proses pembangunan kilang reksasa itu dipercepat, mengingat infrastruktur dan lahan sudah tersedia. Bontang, kata dia, tidak seperti Tuban, yang memulai pembangunan kilang dari nol. “Bontang kan sudah tersedia lahan dan lengkap infrastrukturnya, jadi kalau bisa dipercepatlah,” harapnya.
Pemkot dan DPRD Bontang juga telah melakukan berbagai persiapan menyambut megaproyek ini. Di antaranya dengan melakukan revisi Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Perda Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Begitu pula dengan perizinan, Neni berjanji akan mempermudah segalanya.
Dengan demikian, Neni yakin pelatakan batu pertama kilang baru ini bisa dilakukan sebelum masa pemilihan presiden. “Akhirnya 2025 sudah berdiri kilang yang tentunya menjadi kebahagiaan masyarakat Bontang. Tentu akan ada dampak positif dan negatifnya. Insya Allah di Bontang ke depan akan ada industri ramah lingkungan yang akan menjadi kebanggaan nasional,” kata Neni.
Selain kilang minyak garapan Pertamina, pabrik NPK dengan nilai investasi Rp 7 triliun juga akan dibangun PT Indominco Mandiri di Bontang. (cil)










