BALITA 4 TAHUN IDAP HIV
2 menit baca2.302 kali dibaca

TENGGARONG – Penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kutai Kartanegara kian mengkhawatirkan. Terbaru, balita berusia 4 tahun dinyatakan positif terjangkit virus mematikan itu.
Rs, bocah malang yang tinggal di Kecamatan Sebulu itu terjangkit HIV yang ditularkan kedua orang tuanya. Rs kini dirawat oleh kerabatnya, setelah ibunya meninggal akibat digerogoti penyakit berbahaya itu.
Kabid Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kukar, Supriyanto mengatakan Rs hidup dalam kondisi memprihatinkan. Badannya kurus kering dan tak bertenaga. “Berat badannya turun drastis. Kondisinya kini di pantau petugas Puskesmas II Sebulu,” kata Supriyanto kepada Koran Kaltim, kemarin.
Agar kondisi Rs tak semakin memburuk, Dinsos memberikan bantuan perbaikan gizi dan bantuan kebutuhan hidup. Selain itu, biaya transportasi pengobatan Rs ke RSU Abdul Wahab Sjahranie di Samarinda juga akan ditanggung Dinsos Kukar. “Kita bantu kebutuhan hidup dan gizinya,” ujar Supriyanto.
Selain Rs, bantuan juga diberikan kepada empat pengidap HIV lainnya yang ada di Kecamatan Tenggarong Seberang, Sebulu, dan Tenggarong.
Menurut Supriyanto, dari 2013-2017 lalu, ditemukan 207 penderita HIV di Kukar. Rata-rata mereka terjangkit virus itu melalui prilaku seks bebas.
Jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kukar cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2013 lalu, tercatat ada 39 orang yang dinyatakan positif, dan kemudian naik menjadi 45 di tahun berikutnya.
Jumlah penderita ini kemudian menurun di sepanjang 2015-2016 yang masing-masing 39 dan 24 orang, namun kembali meningkat di 2017. (selengkapnya lihat grafis).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar Koentijo Wibdarminto menyebut fenomena penderita HIV kian meningkat dan sulit ditangani. Kondisi ini dipengaruhi karena lokalisasi yang sulit diberantas.
Di Kukar sendiri, sejumlah lokalisasi sempat ditutup, namun kembali beroperasi lagi karena tak jelasnya proses pemulangan para pekerja seks komersil (PSK).
Masalah lain, belum ada sanksi tegas terhadap lingkar jaringan prostitusi secara nasional. Fakta ini cenderung membuat upaya menekan penyebaran HIV menjadi sia-sia.
“Penanganan mengurangi penderita HIV sangat kompleksitas,” terang Koentijo.
Ia berpesan masyarakat tidak mengucilkan mereka yang terjangkit HIV.
“Bagi penderita HIV akan diberikan obat ARV yang dikonsumsi setiap hari seumur hidup,” terang Koentijo. (ran)










