“Di Pasar Segiri berlakukan harga per potong, sedang di Pasar Palaran dihitung kiloan. Ini yang harus diedukasi, nanti akan ada arahan juga dari MUI,” kata Nusyirwan, Kamis (4/1) kemarin.
Ia mengatakan akan membenahi pola pedagang melalui sosialisasi dan edukasi. Selain sebagai pasar terbesar di Samarinda, Pasar Segiri juga menjadi salah satu indikator fluktuasi harga bahan pokok di Samarinda, bahkan Kaltim.
“Pasar Segiri itu harus diperbaiki, bukan infrastruktur nya tapi perilaku pedagangnya,” paparnya.
Nusyirwan meminta Perusahaan Daerah Pergudangan dan Aneka Usaha (PDPAU) berkoordinasi dengan asosiasi pedagang ayam agar membahas perbedaan harga tersebut. Termasuk pula pengawasan apabila ditemukan ayam yang ditiup atau diberi air sehingga beratnya bertambah. Oknum pedagang demikian lanjutanya perlu diberi sanksi karena dianggap membodohi pelanggan.
Berdasarkan harga pasar, seekor ayam saat ini bekisar Rp48 ribu. Informasi yang ia dapat kenaikan terjadi lantaran harga di kandang resmi juga mengalami kenaikan.
Mencukupi kebutuhan daging ayam di Samarinda, lima kandang resmi pemerintah yakni di Muang, Sungai Siring, Makroman dan Palaran tak cukup. Mau tak mau pedagang ‘mengimpor’ dari Kukar. Persentasenya kira-kira 60 persen dari Kukar sisanya kita,” terang Nusyirwan.
Dari pantauan lapangan ditemukan, tidak ada kekurangan stok bahan pakan.Agar perbedaan harga tidak jomplang rencananya pemkot akan lakukan rapat dengan asosiasi peternakan. “Nanti mereka akan kami libatkan dalam TPID (tim pengendali inflasi daerah), sehingga masalah harga daging ayam ini bisa terkendali,” jelas Nus. (rs)