Namun ditengah tingginya permintaan, pembudidaya kini memilih menahan peningkatan produksi akibat dampak perubahan iklim yang dinilai semakin ekstrem. Data Dinas Perikanan (Diskan) Berau mencatat, produksi udang windu organik pada 2021 mencapai 775,15 ton dan dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia hingga diekspor ke Malaysia dan China.
Satu diantara sentra penghasil udang windu organik berada di Kampung Pegat Batumbuk, Kecamatan Pulau Derawan, melalui dukungan Program Masyarakat Sahabat Tambak Indonesia (MESTI) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
Kepala Bidang Budidaya Diskan Berau Budiono mengatakan, saat ini pihaknya fokus memperkuat ketahanan pembudidaya menghadapi perubahan iklim dibanding mendorong peningkatan produksi secara agresif.
“Perubahan suhu dua derajat saja bisa menyebabkan kematian udang atau ikan yang dipelihara. Karena itu kami tidak berani melakukan padat tebar terlalu tinggi,” jelas Budiono.
Diskan bersama YKAN telah melaksanakan sekolah lapang untuk memberikan edukasi mitigasi iklim kepada petambak. Materi yang diberikan meliputi pengendalian penyakit, pengaturan musim tebar, hingga kepadatan tambak agar risiko gagal panen dapat ditekan.
Budiono menjelaskan, produksi udang windu saat ini masih cenderung ditahan hingga kondisi cuaca kembali stabil pascapancaroba. Meski demikian, permintaan pasar terhadap udang windu organik tetap tinggi, terutama untuk produk ramah lingkungan.
“Permintaan sangat tinggi karena udang windu punya cita rasa khas dan ada segmen pasar tertentu yang mencari produk ramah lingkungan,” paparnya.
Produksi udang windu Berau dalam setahun mencapai sekitar 1.008 ton dalam bentuk utuh. Namun untuk kebutuhan ekspor, udang dikirim tanpa kepala sehingga volume efektifnya berkurang sekitar 30 persen menjadi sekitar 700 ton per tahun.
Keunggulan utama udang windu Berau, lanjut Budiono, terletak pada metode budidaya tradisional tanpa penggunaan pestisida maupun bahan kimia berbahaya. Pendampingan tambak ramah lingkungan juga menjadi nilai tambah yang membuat produk tersebut semakin diminati pasar luar negeri.
Meski peluang pasar masih terbuka lebar, Diskan Berau belum berencana melakukan perluasan lahan tambak. Upaya yang dipilih ialah mengoptimalkan tambak tidak produktif melalui penggunaan probiotik dan kapur untuk meningkatkan kualitas budidaya.
“Fokus kami bukan membuka lahan baru, tetapi memaksimalkan tambak yang sudah ada agar lebih produktif dan tetap ramah lingkungan,” tutup Budiono.
Editor: Aspian Nur