Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat NTP berada di angka 148,00 atau turun 0,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Koreksi ini terjadi saat sejumlah provinsi lain di Kalimantan justru mencatatkan perbaikan.
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, menjelaskan bahwa pelemahan tersebut dipicu oleh ketimpangan antara kenaikan pendapatan dan lonjakan pengeluaran petani.
“Peningkatan harga hasil pertanian yang diterima petani relatif stagnan, hanya naik 0,01 persen. Sementara dari sisi pengeluaran mengalami kenaikan yang lebih besar,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan utama datang dari dua sisi sekaligus, yakni biaya produksi dan kebutuhan konsumsi rumah tangga yang terus meningkat.
“Indeks harga yang dibayar petani naik 0,74 persen. Ini menunjukkan beban biaya yang harus ditanggung petani semakin berat, baik untuk operasional pertanian maupun kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Lebih lanjut, Mas’ud menyoroti kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga sebesar 0,88 persen sebagai sinyal kuat meningkatnya tekanan inflasi di perdesaan.
“Kondisi ini membuat ruang keuangan petani semakin sempit. Pendapatan tidak cukup mengimbangi kenaikan pengeluaran,” tegasnya.
Secara regional, Kaltim menjadi satu-satunya provinsi di Pulau Kalimantan yang mengalami penurunan NTP pada periode tersebut. Hal ini menunjukkan adanya faktor spesifik yang memengaruhi struktur ekonomi pertanian di daerah.
Dari sisi subsektor, tekanan paling besar terjadi pada perkebunan rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung sektor pertanian di Kaltim.
“Penurunan terdalam terjadi pada tanaman perkebunan rakyat. Ini perlu perhatian serius karena kontribusinya sangat besar,” ungkapnya.
Meski begitu, tidak semua subsektor mengalami pelemahan. Hortikultura dan peternakan masih mencatatkan pertumbuhan positif di tengah tekanan biaya.
“Hortikultura naik 2,81 persen karena perbaikan harga komoditas. Peternakan juga tumbuh 1,64 persen didorong kenaikan harga ternak dan unggas,” tuturnya.
Kondisi ini menegaskan tantangan utama sektor pertanian Kaltim saat ini bukan semata pada produksi, melainkan kemampuan bertahan menghadapi lonjakan biaya yang terus meningkat.
Editor: Erwin