Hal ini tetap berada dalam rentang target yang ditetapkan, yakni 2,5% ± 1%. Namun, perlu dicatat bahwa angka ini lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional sebesar 3,05 persen (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Robi Ariadi mengatakan, komoditas yang menjadi penyumbang inflasi masih didominasi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
"Beras, ikan layang, cabai rawit, dan telur ayam ras merupakan beberapa di antaranya," sebut Robi, Selasa (2/4/2024).
Kenaikan harga beras dipengaruhi oleh faktor pasokan dan permintaan, terutama karena meningkatnya konsumsi selama bulan Ramadan. Sementara musibah banjir di daerah pemasok turut memengaruhi pasokan.
"Sedangkan kenaikan harga ikan layang disebabkan oleh penurunan hasil tangkapan akibat kendala cuaca, dan kenaikan harga cabai rawit, juga telur ayam ras dipicu oleh penurunan produksi dan ketersediaan pakan ternak yang terbatas," bebernya.
Selain komoditas pangan, komoditas non-pangan seperti emas perhiasan juga berkontribusi signifikan terhadap inflasi. Kenaikan harga emas perhiasan dipicu oleh peningkatan permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri.
"Juga karena faktor kenaikan harga global yang dipicu oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve AS," jelasnya.
Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami deflasi termasuk angkutan udara, tomat, sawi hijau, bawang merah, dan kangkung. "Program diskon tiket oleh beberapa maskapai menjelang periode lebaran menjadi salah satu penyebab deflasi angkutan udara," ungkapnya.
Bank Indonesia bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melihat perlunya kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya tekanan inflasi pada masa mendatang.
Faktor-faktor seperti kenaikan harga komoditas pangan utama, terutama beras dan cabai rawit, serta peningkatan permintaan menjelang HBKN Idulfitri 2024 menjadi fokus utama. "Potensi kenaikan tarif internet menjelang Idulfitri juga perlu diwaspadai," ucapnya.
Realisasi penggunaan dana Belanja Tak Terduga (BTT) terkait upaya pengendalian inflasi, khususnya untuk inflasi komoditas pangan, perlu diperhatikan agar dapat lebih efektif. Risiko terbatasnya produksi pangan lokal dan kenaikan harga pangan global juga menjadi tantangan yang perlu diatasi.
"Kami akan terus bersinergi dengan berbagai pihak melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) 2024 untuk menjaga inflasi dalam rentang target yang telah ditetapkan," pungkas Robi.
Editor: Maruly Z