Kondisi itu turut menyebabkan antrean panjang kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Ditambah lagi dengan jumlah SPBU yang hanya 14 unit untuk Balikpapan.
"Kalau di Samarinda ada 34 SPBU, nah Balikpapan cuma 14 SPBU," ungkap Area Manager Comm, Rel & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Arya Yusa Dwicandra, Jumat (1/12/2023).
Tingginya konsumsi Pertalite selain karena beralihnya pengguna Pertamax, disinyalir turut disebabkan tingginya pertumbuhan penduduk dan pertambahan kendaraan seiring dengan keberadaan dua proyek strategis nasional (PSN). Sebut saja proyek revitalisasi kilang atau Refinery Development Master Plan (RDMP) dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
"Contoh di kilang ada proyek RDMP yang mendatangkan banyak pekerja dari luar. Ada juga proyek IKN. Ini yang kita coba hitung kebutuhan BBM dengan faktor-faktor tadi," ungkapnya.
Selain itu, kuota Pertalite untuk Balikpapan sebanyak 380 KL dan Samarinda 400 KL per hari. Pertamina juga tengah menghitung jumlah ideal SPBU di Balikpapan.
"Khusus untuk Balikpapan, kebutuhan SPBU masih dihitung ulang karena perhitungan sebelumnya, seharusnya cukup dengan 14 SPBU dengan rerata harian," ujarnya.
Hanya saja, pembangunan SPBU membutuhkan investor yang mau menanamkan modal. Namun harga tanah yang cukup mahal membuat investor berpikir ulang. Untuk kawasan perkotaan saja, harga tanah bisa mencapai Rp7 juta per meter.
"Sebenarnya kalau harga tanahnya gak mahal, banyak investor yang mau. Tapi kita lihat, sepi juga peminatnya. Apalagi cukup lama untuk balik modal. Investor juga lebih banyak fokus ke IKN," sebut Arya.
Sehingga Pertamina bersama pihak terkait lainnya seperti Pemkot Balikpapan dan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) akan mendiskusikan perihal penambahan SPBU. Termasuk kuota BBM untuk Balikpapan pada 2024 mendatang.
"Kalau SPBU tidak ditambah, antrean gak akan terurai. Bisa dibayangkan, mungkin 30 SPBU di Balikpapan pun belum tentu cukup. Tapi masih dihitung oleh tim," imbuhnya.
Selain harga tanah, nilai investasi untuk membangun SPBU bisa mencapai Rp5 miliar untuk infrastruktur lainnya. "Investasi kalau angka tergantung harga tanahnya. Tapi kalau bangunan dan dispenser segala macam, mungkin sekitar tiga sampai lima miliar," tukasnya.
Pertamina, lanjut Arya, mulai membangun satu SPBU di Jalan MT Haryono dekat tanjakan Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo (RSKD). Termasuk mendorong untuk mengubah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di Muara Rapak menjadi SPBU.
"Membangun SPBU itu, satu tahun mengurus izin, satu tahun lagi pembangunannya. Ya, minimal dua tahun. Ada dua SPBU yang dijual, di Karang Jati dan di atas BSCC Dome (Jl. Syarifuddin Yoes), tapi ya harga jualnya cukup tinggi," tambah Arya.
Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga telah mengalihkan penjualan Pertalite di SPBU Stalkuda dan Sepinggan. Kedua SPBU itu tidak lagi menjual melayani untuk kendaraan roda empat. "Khusus untuk roda dua saja," pungkasnya.
Editor: Maruly Z