Salah seorang pengusaha amplang, Endang Jumarini mengatakan, bahwa dirinya sudah menjadi pengusaha amplang selama bertahun-tahun. Bahkan, ia sendiri adalah generasi kedua dalam usaha keluarga yang telah dijalani selama lebih 30 tahun.
Usaha amplang tersebut juga diteruskan ke anaknya yang kini memilih untuk berdagang secara online. “Dari zaman ibu bapak saya, lalu ke saya, sampai sekarang ke anak saya,” jelasnya.
Berbagai kendala ditemui selama ia dan keluarganya menjalani usaha amplang. Yang terbaru adalah pandemi Covid-19, dan kenaikan harga berbagai bahan utama pembuatan amplang. “Waktu minyak susah, sampai ikut antre. Karena minyak ini kan perlu banget untuk menggoreng amplang,” sambungnya.
Buah dari usaha bertahun-tahun pun terus terlihat. Kini, ia dalam satu kali pembuatan amplang, bisa menghabiskan 70 Kilogram (Kg) daging ikan belida dan 140 (Kg) tepung. Amplang-amplang buatannya pun tak hanya dijual di rumah, namun sudah dibeli oleh pengecer-pengecer dari berbagai daerah.
Ia mengaku dalam satu bulan, bisa mengirimkan puluhan bal amplang ke Balikpapan, dan daerah-daerah lain di sekitar Samarinda, hingga ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
“Mereka ambil ke saya, satu dua bal. Nanti mereka bungkus ulang pakai merek mereka. Jadi tidak tahu dijual kemana saja. Kalau yang saya tau kirim ke Balikpapan, Banjarmasin,” jelasnya.
Bahan baku utama amplang, yakni ikan belida ia peroleh dari daerah hulu Sungai Mahakam. Tak jarang ia mengalami kesulitan dalam mendapatkan ikan belida, sehingga mau tak mau harus diganti dengan ikan biji Nangka.
Ia berharap kepopuleran amplang sebagai makanan khas Samarinda bisa terus terjaga, dan usahanya dapat terus berkembang hingga bisa dipasarkan ke secara lebih luas lagi.
Editor: Maruly Zainuddin