Pelatihan yang digelar di Jalan Strat 3, RT 10 Desa Giri Mukti, Kecamatan Penajam ini merupakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT KPI Unit Balikpapan dalam program Ketahanan Pangan Giri Mukti (Kenari).
Pada kesempatan tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara menunjuk Tenaga Ahli Lapangan dari Bidang Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Samsiah sebagai pemateri pembuatan Biosaka.
Sedangkan pelatihan pembuatan pestisida nabati dilakukan oleh Ramli Ajullah yang menjelaskan bahwa pestisida nabati baik untuk hasil tanaman maupun tanah.
“Kami berharap petani bisa kembali beradaptasi dengan alam ketika menggunakan pestisida dan pupuk yang lebih organik. Hal ini berguna untuk kesehatan hasil tanaman serta mengurangi resiko menurunnya produktivitas tanah,” jelas Ramli, Kamis (2/3/2023).
Pestisida nabati merupakan senyawa kimia alami yang berasal dari tumbuhan. Digunakan untuk memberantas organisme pengganggu tumbuhan berupa hama, penyakit tumbuhan, maupun tumbuhan pengganggu (gulma).
Pestisida nabati berasal dari hasil ekstraksi bagian tertentu tumbuhan baik dari daun, buah, biji atau akar. Sedangkan penggunaan Biosaka dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan khususnya tanah agar tetap subur dan tidak kehilangan sifat alaminya.
"Kami berharap tanah di Desa Girimukti ini bisa tetap konsisten subur agar ketahanan pangan bisa tetap terjaga ditengah ekstrimnya cuaca saat ini," imbuh Samsiah.
Pupuk Biosoka yang berfokus pada bahan dari larutan tumbuhan atau rerumputan, diketahui mampu melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Pupuk biosoka mampu menghemat penggunaan pupuk mencapai 50-90 persen.
Arti nama Biosaka yang terdiri dari suku kata Bio dan Saka, adalah Bio yang merupakan singkatan dari Biologi, dan Saka singkatan dari Soko Alam Kembali Ke Alam atau dari Alam Kembali ke Alam.
Pupuk Biosaka adalah inovasi yang telah dikembangkan oleh petani dari bahan baru-terbarukan yang tersedia melimpah di alam.
"Penggunaan Biosaka akhir-akhir ini mendapatkan antusias khusus dari petani karena hanya memanfaatkan tanaman liar disekitar rumah yang mudah dihaluskan,” sebut Samsiah.
Sementara Ketua Kelompok Tani Bina Usaha Muda, Ketut Harianto menyampaikan bahwa pelatihan telah memberikan para petani sebuah pengalaman baru dalam pengurangan penggunaan pupuk kimia.
"Terlebih itu harga pestisida dan pupuk subsidi sudah mulai terbatas sehingga kami kesulitan untuk mendapatkannya. Kami bersyukur lewat pelatihan ini kami bisa mengolah sendiri pestisida dan pupuk yang alami serta tentunya akan bermanfaat bagi tanaman kami," kata Ketut.
Secara terpisah, Area Manager Comm, Rel & CSR PT KPI Unit Balikpapan Ely Chandra Perangin Angin menjelaskan Program Kenari bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan.
"Program ini tentunya lahir dengan tujuan untuk dapat meningkatkan ketahanan pangan khususnya di Desa Giri Mukti,” kata Chandra.
Dirinya juga menjelaskan program Kenari melalui pelatihan ini membantu masyarakat agar tidak bergantung pada pupuk kimia. Terlebih program ini cukup memanfaatan lahan tidak produktif menjadi demplot tanaman hortikultura.
"Dengan adanya pelatihan pembuatan pupuk ini dapat membantu warga untuk menciptakan pupuk organik mereka sendiri dan mulai mengurangi ketergantungan mereka terhadap pemakaian pupuk kimia,” tutupnya.
Editor: Rusdianto