Kabid Pengembangan Komoditi di Dinas Perkebunan Kaltim Zuraida Hapsari menyebutkan, perkembangan kopi di Kaltim terbilang lambat dan tidak pesat seperti komoditas yang lain, padahal kopi merupakan komoditas yang sudah lama dikembangkan secara independen oleh masyarakat Kaltim.
“Kawasan perkebunan kopi sebenarnya dikatakan merata, karena di beberapa wilayah desa di kabupaten yang ada di Kaltim sudah terdapat perkebunan kopi milik masyarakat,” kata Zuraidah
Besarnya pangsa kopi di Kaltim dan Indonesia membuat komoditas tersebut memiliki potensi pasar yang berkelanjutan yang nantinya depan diperkirakan dengan pengembangan yang optimal, komoditas kopi bisa memperkuat perekonomian Kaltim.
“Semoga ke depan, komoditas ini bisa menjadi salah satu yang diunggulkan. Supaya program untuk pengembangannya bisa lebih masif,” harapnya.
Dari hasil identifikasi yang dilakukan pihaknya, saat ini terdapat 3 jenis kopi yang dapat dikembangkan di Kaltim. Mulai dari kopi jenis robusta, liberika dan arabika yang dapat ditanam di dataran rendah hingga tinggi.
“Misalnya robusta dan liberika itu untuk dataran rendah, dan Arabika cenderung di dataran yang lebih tinggi. Lebih dari 400 meter,” papar Zuraidah.
Proses menanam kopi tak berbeda jauh dengan menanam kakao. Populasi penanaman kopi pun tak jaug berbeda dengan kakao yang per hektarnya terdapat 1.600 tanaman atau pohon kopi yang dapat dikembangkan.
Editor: Aspian Nur