Dia menambahkan, Pemerintah Kota Samarinda juga telah sekian kali melakukan penggusuran terhadap PKL tanpa memberikan solusi yang tepat. Huda juga menyayangkan dalam setiap penertiban yang dilakukan terhadap pedagang masih saja ada tindak pemukulan yang dilakukan.
"Ini adalah penggusuran kesekian kali oleh pemerintah kota, sebelumnya kan viral tuh pemukulan PKL di Jalan Arif Rahman Hakim, jangan sampai ada lagi, PKL yang dipukul," katanya, Rabu (5/10/2022).
Dia mengungkapkan, jika penertiban dilakukan dengan alasan adanya aturan Ruang Terbuka Hijau (RTH), maka pemerintah jelasnya juga harus adil menggusur semua usaha yang ada di sepanjang Tepian Mahakam, seperti Marimar dan Hotel Harris.
Menurutnya, pemerintah telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), padahal pemerintah memiliki tugas dalam pemenuhan HAM dan perlindungan kepada masyarakat. "Dalam konteks ekonomi, pemerintah belum memenuhi hak warganya, apalagi ini menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat Kota Samarinda," ucap Fatur.
Senada dengan Fatur, seorang pedagang minuman di Kawasan Tepian Mahakam, Arinda juga menyampaikan PKL Tepian Mahakam merasa sangat dirugikan oleh pemerintah kota yang seolah lepas tangan tanpa memberikan solusi dalam persoalan ini.
"Seharusnya wali kota tahu keadaan kami dan kami juga diberi solusi, tiap malam kita juga buang sampah masing-masing, jadi kebersihan selalu terjaga," ujarnya.
Sampai saat ini dia menyayangkan belum ada kebijakan dari Pemkot tentang perizinan untuk berjualan. "Kami juga sebelumnya berasal dari IPTM (Ikatan Pedagang Tepian Mahakam), tetapi kami tidak masuk lagi, masa iya pemkot memberikan kebijakan dalam 1 rombong di isi 3 pedagang. Kalo jualan tahu tek tek gimana," tegasnya.
Arinda menjelaskan, sebenarnya para pedagang dan para jukir mau saja dibina, hanya saja dari Pemkot tak ada kejelasan. "Kami harap Pemkot Samarinda bisa lebih peka dan memerhatikan lagi keadaan kami, khususnya pedagang. Berilah kami solusi, sehingga kami tidak kesulitan dalam mencari kebutuhan kami. Apalagi anak-anak kami masih pada kecil-kecil," harapnya.
Penulis: Rahmat Surya
Editor: Maruly Zainuddin