Selama tiga hari tersebut, ada enam kapal yang datang dari Pelabuhan Parepare, Sulsel ke Samarinda membawa sembako serta logistik lainnya dimana muatan kapal tersebut akan didistribusikan ke beberapa wilayah di Benua Etam antara lain Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Timur (Kutim), Kutai Barat (Kubar), Balikpapan, Mahakam Ulu (Mahulu) dan Berau, termasuk Samarinda.
Pimpinan Pekerja Bongkar Muat Asia Muhidin ditemui Korankaltim.com di Pelabuhan Samarinda, Selasa (16/8/2022) hari ini menjelaskan, ada sekitar 70 truk yang biasanya digunakan untuk mengangkut sembako.
"Truk-truk itu kesulitan mendapatkan solar, makanya ini sudah tiga hari logistik numpuk di pelabuhan. Untuk mendapatkan BBM pun mereka harus mengantre lama bahkan sampai 12 jam," jelas Muhidin.
"Kalau bahan pokok ini dibiarkan sampai berhari-hari takutnya rusak, apalagi ini musim hujan, kalau ditanya kenapa ada yang rusak pasti minta ganti, pasti akan dipotong ongkos buruhnya," paparnya.
Meski begitu ada beberapa truk yang memang memiliki sisa BBM mendistribusikan sembako yang memang masih di Samarinda misalnya ke pasar-pasar. "Ada sekitar 50 truk yang belum bisa berangkat, ya karena tidak ada BBM, untuk di Samarinda mereka menggunakan sisa BBM yang ada di tangki mereka," ucap Muhidin lagi.
Kalau pun supir truk mendapatkan BBM dibatasi hanya 80 liter saja, sementara jika keluar kota yang memang jauh seperti Berau memerlukan setidaknya 250-300 liter untuk pergi pulang. "Jadi, mau tidak mau para sopir ini harus membeli eceran dengan harga yang mahal," sebutnya.
Muhidin berharap khusus untuk angkutan sembako bisa menjadi prioritas untuk mendapatkan BBM khusus luar kota. "Harapannya bisa dimudahkan, karena selama ini ya mereka (sopir) kesulitan," tandasnya.
Andi Asdar, seorang supir truk secara terpisah mengatakan saat melakukan pengisian BBM jenis solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), dirinya bersama supir truk lain tak lantas langsung bisa mengisi, pasalnya mereka harus menunggu sepekan lagi.
"Jadi harus ambil kartu antrean di SPBU, saya mengisi hari Kamis dan ada juga antrean di hari Sabtu, dari SPBU tanya ini mau ambil yang mana, saya bilang ada muatan, terus dia bilang berarti hari Sabtu tidak bisa mengisi lagi, katanya dobel. Tetapi, saya bilang kalau dobel itu tidak ada jeda sehari, dia bilang tetap tidak bisa, biasanya itu saya antrea di SPBU Kebaktian," kata Asdar.
"Kalau isi di SPBU lain ya bisa, tetapi 'penyakitnya' sama seperti itu juga, jadi kami ini kadang mau isi sudah antre tidak dapat, makanya memakan waktu banyak," jelas pria 40 tahun ini.
Kendala lain yang dihadapi, jika dalam pengisian solar pun dibatasi, terkadang 60 liter, dan paling banyak 80 liter. "Kalau misalnya tidak cukup mau gak mau ngecer, dari pada tidak bisa pulang. Makanya kami kadang kalau mau muatan harus pergitungkan dulu, tidak langsung angkut saja," tutup Asdar.
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur