Dengan adanya instruksi tersebut, Disdag Kota Samarinda menghimbau kepada seluruh pedangan baik dipasar tradisional maupun modern untuk tidak menjual minyak goreng dengan harga diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditentukan.
Akan tetapi melihat perkembangan mulai 2 bulan lalu, pelaksanaan penjualan di pasar tradisional masih dalam harga yang relatif mahal karena pedagang beralasan mereka harus menghabiskan stok lama sehingga tidak terjadi kerugian dan memberlakukan harga sesuai instruksi pada stok baru.
Polemik tersebut terjadi dimasyarakat yang jadi alasan untuk menaikan harga penjualan minyak goreng.
Kepala Disdag Samarinda Marnabas kepada Korankaltim.com Rabu (2/2/2022) hari ini menyebutkan mereka terus melakukan pemantauan penjualan minyak goreng baik di pasar tradisional maupun di pasar modern.
Koordinasi dilakukan dengan Disdag Kaltim untuk memberikan jalan keluar terhadap penjualan minyak dengan harga belum merata. Salah satu penawaran solusi yang akan dijalankan yakni pengembalian stok minyak goreng kepada distributor lalu akan diganti dengan minyak yang baru dengan harga sesuai instruksi pemerintah.
"Kami masih koordinasi dengan provinsi bagaimana bentuk konpensasi bagi pasar tradisional ini, Kalau pasar modern kan sudah. Pasar tradisional itu yang masih punya stok di return ke distributor. Kalau yang baru beli sekarang aman, karena di distributor itu Rp13.750 per liternya. Berarti mereka bisa jual 14.000," sebut Marnabas.
Selain itu masyarakat juga mengkhawatirkan adanya kelangkaan minyak goreng saat bulan Ramadan. Namun Marnabas meyakinkan kelangkaan itu tidak akan terjadi sebab stok dalam konsisi terkendali dalam enam bulan kedepan.
"Masih ada 13 ribu liter lagi belum disalurkan, kami selalu sosialisasi lewat kelurahan supaya disampaikan kepada masyarakat jangan berlebihan dalam membeli. Saya dijanjikan distributor akan ada penambahan 100 ribu liter, Jadi tidak akan ada kelangkaan," pungkas Marnabas.
Penulis : */Linda Mulyani
Editor: Aspian Nur