“Potensi penurunan pasokan dari daerah sentra di Jawa Timur akibat pemberlakuan PPKM Mikro Darurat Jawa dan Bali,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kota Balikpapan Sri Darmadi Sudibyo Jumat (2/7/2021) kemarin.
Naiknya harga barang-barang di kelompok kesehatan juga bakal mendorong inflasi pada Juli 2021 ini. “Seiring naiknya permintaan dari pasien Covid-19,” ujarnya.
Faktor lain yang diperkirakan masih memberi tekanan inflasi adalah pada kelompok sayur-sayuran. Dimana produksinya mengalami penurunan akibat cuaca.
“Karena pengaruh hujan intensitas tinggi.
Sementara itu, inflasi sebesar 0,47 persen terjadi di kota Balikpapan pada Juni 2021. Disebabkan kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil 0,43 persen. Khususnya pada harga daging ayam.
“Kenaikan harga karena pasokan menurun dan harga pakan naik. Kelompok sayuran seperti kangkung dan sawi hijau juga menyumbang inflasi,” papar Darmadi.
Inflasi turut terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar rumah tangga dengan andil 0,08 persen. Penyebab pada kelompok ini dikarenakan naiknya harga bahan bakar rumah tangga
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut memberi andil 0,05 persen. Masih didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan di tengah naiknya harga emas dunia.
Di sisi lain, terjadi deflasi pada kelompok transportasi dengan andil -0,13 persen. “Dipengaruhi penurunan tarif angkutan udara pascalebaran,” sebutnya.
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus bersinergi dan berkolaborasi menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. Termasuk memperkuat koordinasi.
“Guna menjaga inflasi tetap rendah dan stabil menuju sasaran 3% +- 1,” tutup Darmadi.
Penulis: */Hendra
Editor: Aspian Nur