“Kami seluruh pabrik produksi tahu dan tempe di Kota Bontang, akan mengosongkan tahu dan tempe di seluruh Kota Bontang atau berhenti berproduksi, sebagai bentuk keprihatinan kami kepada harga kedelai yang terus melambung tinggi dan belum adanya solusi dari pemerintah untuk kami,” kata Mudawam dalam surat tersebut.
Bukan tanpa alasan surat tersebut dikeluarkan PPTT. Pasalnya harga bahan pokok tahu dan tempe yaitu keledai impor yang saat ini melonjak, membuat pedagang kesulitan menjual dengan harga tinggi kepada masyarakat.
Aksi mogok nanti dilakukan sekaligus untuk menginformasikan kepada masyarakat agar mengerti fakta yang terjadi saat ini. “Harga kedelai ini kan mahal, kalau kami siasati dengan mengurangi jumlah ukuran dari tahu ataupun tempenya pun masih belum efektif,” ungkap Mudawam.
Saat ini harga kedelai yang biasanya Rp360 ribu per karung dengan berat 50 kilogram menjadi Rp580 ribu. Sebagai pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang menjalani bisnis pengrajin tahu dan tempe selama 30 tahun, Mudawam mengatakan jika sepatutnya pemerintah melalui dinas terkait untuk menyelidiki akar masalahnya.
“Pemerintah harus mengintervensi pengadaan bahan pokok saat terjadi kelangkaan, hilang dipasaran ataupun harganya melonjak,” sebut Mudawam lagi. Senada dengan Mudawam, produsen tahu Rio Bahtiar Ramadon menyatakan dirinya menginginkan pemerintah untuk turun tangan memperhatikan kondisi ini. “Kami membuat keputusan ini karena kami sudah bingung,” tegas Rio.
Penulis : Choirun Nisa
Editor: Aspian Nur