"Naiknya lima ribu setiap harinya, sudah sejak tiga hari ini. 85, 90 dan 95 tidak menutup kemungkinan besok bisa naik lagi jadi 100 kilo perkilogram," katanya kepada korankaltim.com, Minggu (14/3/2021).
Menurut pengalamannya, kejadian merangsek naiknya harga cabai merah di pasaran ini disebabkan keterlambatan kapal pengiriman sembako yang membawa komoditi bahan-bahan sayuran salah satunya cabai dari pulau Sulawesi.
"Pasti ini disebabkan kapalnya yang dari Sulawesi mengalami keterlambatan. Biasanya kejadian seperti ini bisa berlangsung selama seminggu bahkan lebih," ungkapnya.
Keluhan juga diungkapkan oleh warga Tenggarong, Khaidur, yang berharap harga cabai segera normal karena dirinya adalah penggemar makanan pedas. "Semoga segera turun ya, dulu beli cabek 2000 bisa dapat satu bungkus kecil isinya sekitar 20 biji, sekarang beli 2000 cuma dapat 5 bintir maha," ucapnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar, H Tajuddin menjelaskan, kejadian kenaikan harga cabai ini sudah dipantau langsung oleh pihaknya, dan hal ini murni disebabkan faktor kondisi alam yang mengakibatkan sebagian daerah penghasil sayur-sayuran di Pulau Jawa mengalami gagal panen karena banjir.
"Jadi kami hanya disuplai dari Sulawesi yang stoknya juga semakin berkurang. Kami masih bersyukur di angka 100 ribu, kalau di Jawa sudah di angka 120 ribu per kilogram. Ini karena faktor alam dan berharap tidak berlangsung lama," jelasnya.
Selain memanfaatkan produksi cabai lokal yakni dengan secara mandiri memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami palawija, solusi langkah yang tepat ialah berhemat dan tidak perlu panik. "Dan yang terpenting kita berhemat konsumsi cabai untuk saat ini dan tak perlu panik karena kan ketersediaannya tetap masih ada di pasaran," tutup Tajuddin.
Penulis : Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur