“Secara keseluruhan pantauan harga-harga masih stabil di awal tahun ini, memang dua jenis itu saja yang mengalami kenaikan yakni kedelai dan cabai. Kalau kedelai itu karena tingginya ketergantungan Negara kita dengan kedelai import, sedangkan cabai itu tinggi murni karena cuaca,” kata Sayid kepada korankaltim.com, Senin (25/1/2021).
Untuk cabai salah satu yang menyebabkan kenaikan harga dikarenakan kondisi curah hujan yang tinggi di berbagai daerah termasuk di Kukar. Hal inilah yang menyebabkan harga cabai naik karena sebagian besar cabai yang harus bisa dipasarkan terjadi gagal panen. “Kalau untuk penimbunan tentu tidak mungkin karena kan kalau ditimbun dan disimpan yang rugi pasti pedagang juga, jadi cabai ini murni karena factor cuaca,” ungkapnya.
Hal senada juga terjadi pada kedelai. Karena cuaca buruk di akhir sampai menjelang awal tahun hingga sekarang, kedelai yang didatangkan dari luar negeri ini mengalami masalah, akibatnya stok kedelai di dalam negeri sempat terjadi kelangkaan karena keterlambatan distribusi dari Negara asing seperti China dan Amerika.
“Kedelai itu sesuai pernyataan pemerintah pusat memang ketersediaan kedelai lokal kita tidak mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri. Selama ini kita datangkan dari China, Amerika, Kanada, Brasil dan lainnya. Ya karena cuaca buruk juga maka nya import ke dalam negeri terganggu,” terangnya.
Kenaikan harga cabai dan kedelai juga dirasakan pedagang sayur rumahan. Seri Endang, salah satu pedagang yang setiap harinya membeli barang dagangan berupa sayur-sayuran beraneka macam dari Pasar Mangkurawang Tenggarong untuk di jual lagi di warung klontongan depan rumah miliknya merasakan hal serupa.
“Tempe kepingan itu kalau dulu kita beli kisaran 50-60 ribu itu dapat 26 potong dan tambahannya, sekarang ini hanya dapat 25 potong saja, sedangkan cabai dulu perkilonya 30-35 ribu sekarang naik dua kali lipat bisa 60 ribuan lebih,” ungkapnya.[]
Penulis : */Muhammad Heriansyah
Editor : Rusdi