"Iyaa i ever hear that once, tapi gak terlalu familiar," kata Ranti sapa akrabnya, ketika ditemui Pusaranmedia.com, jaringan Korankaltim.com.
Selama ini, Ranti lebih memilih membeli biji kopi dari Jawa Barat, Sulawesi bahkan dari luar negeri seperti Ethiopia. Hal ini karena ia tidak mengetahui keberadaan kopi di Kaltim dan pasar konsumennya juga belum tahu harus kemana dijualnya. "Beans-nya (Kaltim) belum disounding ke orang banyak," lanjutnya.
Untuk memperoleh biji dari luar Kaltim, Ranti biasanya beli secara online atau dari roster yang ada di Samarinda. Jika dipersentase, lebih dominan beli secara online. 60 persen secara online dan 40 persen melalui roaster di Samarinda.
Dari lubuk hatinya yang paling dalam selaku putrai daerah, dia sangat menginginkan untuk mencoba biji kopi yang berasal dari Bumi Etam. Harapannya semoga ke depan banyak penggiat kopi yang menyuarakan kopi yang berasal dari Kaltim.
Sudah jatuh tertimpa tangga. Itu pribahasa yang tepat untuk menggabarkan produksi kopi di Kaltim. Sejak sepuluh tahun terkahir, angkanya terus menurun. Bahkan keberadaanya tidak diketahui oleh masyarakat.
Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim mencatat pada tahun 2019, Bumi Etam hanya dapat memproduksi kopi 223 ton dari luas lahan 2.529 hektar. Berbeda halnya ketika tahun 2011, dari luas lahan 7.149, biji kopi dapat diproduksi 1.959 ton di Kaltim.
Angka penurunan tersebut terbilang besar. Puncak penurunannya terjadi pada tahun 2013, Kaltim hanya dapat memproduksi 811 ton kopi dari luas lahan 5.477 hektar. Setelahnya hingga tahun 2019 terjadi penurunan dengan rasio 20-200 ton produksi kopi per tahun.
Dua daerah yang menjadi dominasi produksi kopi di tahun 2019, Kukar dan Paser. Masing-masing menghasilkan 9 ton dan 123 ton.
Kadisbun Kaltim, Ujang Rahmad menilai hal ini tidak lebih dari lahan perkopian yang dialih fungsikan untuk sektor lainya. Seperti halnya pertambangan dan perkebunan kelapa sawit.
"Dan petaninya juga pindah kerjanya, ini yang mengakibatkan berkurang petani lahan hingga berdampak pada produksinya," terangnya kepada pusaranmedia.com, Senin (16/11/2020) siang.
Ia juga menyayangkan angka penurunan produksi kopi itu. Ketika masa itu, dirasa kopi dari Bumi Etam belum memiliki taya tarik yang lebih. Jika dilihat tren budaya kopi yang meningkat seharusnya ini bisa dimanfaatkan.
Penulis : Muhibar Sobary/PusaranMedia.com
Editor : Rusdi