Tapi, bagi sebagian pengrajin, membuat Ulap Doyo, bukan melulu persoalan keuntungan.
Selain merupakan mata pencaharian, para pengrajin merasa bahwa menenun Ulap Doyo, adalah tanggung jawab menjaga warisan leluhur. Ramida, salah satu pengrajin ulap doyo yang turut serta pada pameran temporer yang diselenggarakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Mulawarman mengaku tetap konsisten dengan usaha yang digelutinya ini.
"Kami pengrajin ulap doyo kompleks Museum. Ini memang sudah turun-temurun dari nenek moyang suku kami asli dayak Benuaq. Walaupun banyak perkembangan modern, kami tetap melestarikan budaya asli kami," kata Ida sapaan akrabnya kepada korankaltim.com, Kamis (24/9/2020).
Berdasarkan kecintaan dan warisan turun-temurun asli nenek moyang inilah yang mendasari Ida dan rekan-rekan sesama pengrajin ulap doyo untuk tetap bertahan dan eksis dalam melestarikan barang-barang ciri khas yang kini sudah masuk pada segmen industri ini. "Sampai di saya ini sudah generasi yang ketujuh, adapun kendala yang kini kami hadapi ya untuk menembus pasar global meskipun dukungan sudah banyak ditunjukkan oleh pihak pemerintah," ungkapnya.
Dirinya berharap, kecintaan terhadap budaya asli lokal ini harus tetap ditanamkan pada generasi milenial saat ini. Hal ini agar budaya yang memiliki ciri khas asli Kalimantan ini bisa tetap eksis sampai kapanpun.
"Harapannya generasi muda kita terus diberikan edukasi dan sosialisasi pentingnya menjaga kelestarian adat budaya asli yang kita miliki. Salah satunya dengan ada pameran temporer seperti ini sebagai media untuk memberikan informasi tentang adat budaya yang kita miliki untuk kemudian bisa dipelajari dan dikembangkan," pungkas Ida.[]
Penulis : Muhammad Heriansyah
Editor : Rusdi