Namun, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (Kpw BI) Balikpapan Bimo Epyanto meyakini, ekonomi syariah masih dapat tumbuh karena didukung potensi pasar domestik dan global serta kesiapan infrastruktur keuangan.
"Termasuk potensi demografi dan letak geografis kota ini," kata Bimo Epyanto, Kamis (6/8/2020).
Infrastruktur keuangan kota Balikpapan tercatat cukup lengkap, seperti beroperasinya Bank Umum Syariah/Usaha Unit Syariah (BUS/UUS), 1 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), 54 Baitul Maal wa Tamawil (BMT)/Koperasi Syariah, dan lembaga non keuangan Syariah lainnya seperti Pegadaian Syariah, Bank Wakaf Mikro hingga Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
"Perkembangan aset dan DPK (Dana Pihak Ketiga) perbankan syariah dalam tren meningkat," ujarnya.
Aset perbankan syariah tercatat sebesar Rp3,58 triliun atau tumbuh sebesar 15,15 persen secara tahunan. Meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 12,63 persen.
Bahkan kontribusi aset perbankan syariah mencapai 9,95 persen dari aset perbankan kota Balikpapan secara keseluruhan atau lebih besar dari share aset perbankan syariah Kalimantan Timur yang mencapai 7,32 persen maupun Nasional 5,92 persen.
Sementara penghimpunan DPK, pada triwulan II - 2020 sebesar Rp3,48 triliun atau tumbuh 43,46 persen secara tahunan.
Kontribusi DPK kota Balikpapan sebesar 11,73 persen dari total DPK secara keseluruhan.
"Capaian itu, lebih besar dibandingkan share DPK Syariah Kalimantan Timur 8,04 persen maupun Nasional 5,83 persen," tandas Bimo.
Penulis: Hendra
Editor : Rusdi