"Harapan walau tidak dimediasi sampai ke DPRD, persoalan Pelindo dan masyarakat nelayan bisa clear dan mudah-mudahan sama-sama berjalan," kata Wahab kepada korankaltim.com, Jumat (10/9/2021).
Menyikapi aksi penolakan yang dilakukan oleh masyarakat nelayan, Politisi Hanura ini mengungkapkan, hal tersebut dianggap wajar karena kegiatan pandu yang telah dilakukan selama puluhan tahun adalah salah satu mata pencaharian masyarakat setempat.
Ia pun tak mempersoalkan jika Pelindo akhirnya memang harus masuk dalam pengelolaan kegiatan di perairan Desa Tanjung Limau, Muara Badak, namun yang paling utama ditekankan jangan sampai keberadaan instansi Pemerintah yang memang berwenang dalam pengelolaan di perairan laut ini memberikan kerugian masyarakat setempat, sehingga diharapkan hal-hal yang tidak diinginkan jangan sampai terjadi saat ini dan di kemudian hari jika persoalan ini tidak dituntaskan secara baik-baik dan adil.
"Artinya masyarakat tidak dirugikan dan kalau memang Pelindo nya memang masuk ya bagus juga, tapi dalam artian jangan merugikan masyarakat," ungkapnya.
Untuk diketahui pekerjaan pandu alam untuk kapal ponton pengangkut baru bara di perairan Kecamatan Muara Badak di Desa Tanjung Limau sudah dilakukan masyarakat setempat sejak turun temurun, bahkan saat ini ada Forum yang menaunginya yakni Forum Gerakan Pemuda Masyarakat Pangempang (GPMP) yang telah berdiri sejak dua tahun terakhir.
Untuk itu, ketika pekerjaan pandu alam ini diusik oleh KUPP Tanjung Santan yang menyerahkan kegiatan pandu ini kepada Pelindo IV, pastinya mendapatkan reaksi dari masyarakat sekitar.
Aksi massa tak terelakkan pada, Minggu (1/8/2021) lalu. Ratusan warga yang tergabung dalam Forum GPMP ini melakukan aksi penolakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, di perairan Desa Tanjung Limau Muara Badak. "Kalaupun sudah ada jalan negosiasi ya kami harap Pelindo juga bisa mengayomi dan memfasilitasi masyarakat nelayan setempat. Ya sama-sama jalanlah, ambil solusi terbaik," pungkas Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Kukar ini. (Adv)
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan