Meskipun mengakui pentingnya pengerukan Sungai Mahakam, menurutnya langkah di hulu justru lebih mendesak untuk ditangani dalam jangka pendek.
Kawasan hulu SKM yang dimaksud meliputi wilayah Samarinda dan Kutai Kartanegara, seperti Pampang, Tanah Datar, Marangkayu, hingga Muara Badak.
Daerah-daerah ini, kata Subandi, memiliki pengaruh besar terhadap meningkatnya debit air yang akhirnya mengalir menuju pusat Kota Samarinda. “Daerah-daerah itulah yang sangat menentukan naik turunnya debit air menuju Samarinda,” ujarnya, Kamis (4/12/2025).
Salah satu proyek besar yang saat ini sedang digarap Pemerintah Kota Samarinda adalah pembangunan folder seluas 60 hektare di kawasan Sungai Siring.
Proyek ini dirancang sebagai tampungan sementara untuk menahan laju air dari wilayah atas sebelum masuk ke area perkotaan. “Folder itu disiapkan sebagai area penahan aliran air, supaya limpasan dari daerah atas tidak langsung mengarah ke pusat kota,” jelas Subandi.
Namun, ia mengingatkan bahwa pembangunan folder tersebut membutuhkan dukungan anggaran yang cukup besar. Saat ini, pembangunan baru dimulai pada area sekitar 10 hektare dari total rencana keseluruhan.
Menutup pernyataannya, Subandi menekankan bahwa upaya penataan SKM dan pengerukan Sungai Mahakam tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Menurutnya, kombinasi kedua strategi tersebut harus dilakukan secara seimbang, komprehensif, dan berkelanjutan untuk memastikan solusi banjir di Samarinda benar-benar efektif. “Penanganan di hulu dan pengerukan Mahakam harus sejalan. Keduanya saling melengkapi untuk mengurangi risiko banjir di Kota Samarinda,” tegasnya. (adv)