Dia menyayangkan lambannya progres pembangunan jalan sepanjang 20 kilometer tersebut, yang hingga kini belum sepenuhnya terealisasi.
Menurut Budianto, pembangunan jalan ini telah terhambat sejak 1980. Saat ini, hanya sebagian jalur dari Desa Tanjung Manis ke Desa Susuk Tengah sepanjang 10 kilometer yang rampung.
Sementara akses menuju Desa Marukangan sama sekali belum tersentuh pembangunan. Menanggapi kondisi ini, Budianto Bulang menyatakan keluhan warga telah masuk ke dalam laporan resesnya.
Dirinya menegaskan pentingnya gubernur dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, khususnya Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-Pera) Kaltim, mengetahui kondisi ini dan segera menindaklanjutinya.
“Saya heran, kenapa jalan ini tidak terealisasi selama puluhan tahun, padahal sudah berganti beberapa Gubernur. Kita akan kawal agar keluhan warga Marukangan bisa terealisasi,” kata dia, Rabu (26/11/2025).
Menurut Budianto, jalan tersebut memiliki peran strategis karena mampu mempersingkat waktu perjalanan dan mendorong perputaran ekonomi masyarakat setempat.
Jika dibangun, akses ini diharapkan memperlancar mobilitas warga dan mendukung percepatan pembangunan di Kutim.
Budianto menegaskan komitmennya untuk terus mengawal proyek jalan ini sampai terealisasi, memastikan aspirasi warga Marukangan tidak diabaikan. “Kita akan kawal sampai terealisasi,” tegasnya.
Seorang warga Desa Marukangan, Hasyim, menyatakan kekecewaannya terhadap keterlambatan proyek ini. Menurutnya, masyarakat desa telah menunggu akses jalan ini selama puluhan tahun, namun belum ada tanda-tanda penyelesaian.
“Ini sejak tahun 80-an mas jalan ini, sampai sekarang tidak ada perubahan,” ujarnya belum lama ini.
Hasyim menambahkan, beberapa ruas jalan yang sudah dibangun sebelumnya kini kembali tertutup rerumputan lebat dan pepohonan kecil akibat pengerjaan yang tidak dilanjutkan.
Akibatnya, akses yang seharusnya menghubungkan jantung Kutai Timur menjadi tidak dapat dilewati. “Kondisinya kembali tertutup, sebagian jalan tidak bisa dilalui lagi,” jelasnya.
Saat ini, warga Desa Marukangan terpaksa menggunakan akses jalan milik perusahaan untuk keperluan sehari-hari maupun perjalanan ke pusat kota Kutim. (adv)
Editor: Erwin