Serta harus dilaksanakan secara beriringan, untuk mendorong percepatan penurunan prevalensi stunting yang hingga kini masih berada pada angka mengkhawatirkan.
Data terakhir menunjukkan bahwa pada tahun 2024, prevalensi stunting di Provinsi Kalimantan Timur mencapai 22,2 persen, atau setara dengan 39.137 anak.
Persentase tersebut masih berada di atas angka rata-rata nasional, sehingga diperlukan langkah lebih progresif dan terarah untuk menekan jumlah kasus secara signifikan.
Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, menegaskan bahwa keterlibatan ahli gizi di lapangan harus semakin diperkuat.
Ia menjelaskan bahwa persoalan stunting tidak semata-mata berkaitan dengan asupan makanan, melainkan juga menyangkut kualitas pelayanan kesehatan dan kondisi lingkungan tempat anak tumbuh.
“Penanganan stunting itu sangat membutuhkan ahli gizi. Karena stunting bukan hanya soal makanan, tapi banyak faktor lain mulai dari remaja putri, ibu hamil, sampai sanitasi. Sanitasi MCK yang buruk itu ada hubungannya dengan stunting,” ujar Ananda pada Selasa (25/11/2025).
Ananda menambahkan, posyandu sebagai garda terdepan pelayanan dasar masyarakat, perlu diisi oleh tenaga kesehatan kompeten yang mampu melakukan pemantauan berkala terhadap tumbuh kembang anak.
Menurutnya, evaluasi yang dilakukan pada periode 1.000 hari pertama kehidupan sangat menentukan kualitas perkembangan otak serta pertumbuhan fisik anak di masa depan.
“Remaja putri itu juga harus dicek kesehatannya. Banyak yang anemia. Kalau dari hulunya sudah bermasalah, risiko stunting akan terus berlanjut saat mereka menjadi ibu,” katanya.
Politisi PDIP itu menilai, efektivitas posyandu bukan hanya diukur dari jumlah fasilitas yang tersedia, tetapi dari seberapa baik programnya menjangkau keluarga yang memiliki risiko tinggi terhadap stunting.
Karena itu, pemetaan wilayah rawan stunting serta penambahan tenaga ahli gizi di tingkat kelurahan dan kecamatan menjadi langkah penting yang perlu segera direalisasikan.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Kaltim mengungkapkan bahwa penurunan angka stunting dalam tiga tahun terakhir baru mencapai 0,7 persen.
Angka ini masih jauh di bawah capaian nasional yang berhasil menurunkan prevalensi lebih dari 1 persen pada periode yang sama.
Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa intervensi sensitif seperti perbaikan sanitasi, penyediaan air bersih, serta edukasi perilaku hidup bersih dan sehat tidak boleh lagi berjalan lambat.
“Kita ingin generasi emas 2045 itu nyata. Kalau masih berkutat dengan stunting, berarti kita belum maju. Semua pihak harus kerja sama agar anak-anak kita bisa tumbuh sehat dan cerdas,” tegas Ananda. (Adv)
Editor: Aspian Nur