Penyakit ini masih menunjukkan tren mengkhawatirkan di sejumlah daerah berstatus “zona merah,” termasuk Samarinda dan Balikpapan.
Damayanti menegaskan bahwa HIV/AIDS merupakan masalah serius yang tidak boleh dianggap remeh.
Menurutnya, penyebaran virus ini dapat terjadi dengan cepat apabila masyarakat tidak memahami faktor risiko yang ada.
“HIV/AIDS ini penyakit menular. Artinya, masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang benar mengenai apa saja yang harus mereka waspadai,” ujarnya, Senin (24/11/2025).
Ia menjelaskan terdapat sejumlah faktor utama yang kerap menjadi penyebab penularan, seperti penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan aktivitas seksual berisiko tanpa perlindungan.
Namun, isu-isu tersebut sering kali jarang dibahas secara terbuka karena dianggap sensitif atau tabu.
“Karena itulah edukasi penting. Kita jangan menganggap topik ini memalukan untuk dibicarakan. Justru pemahaman yang benar dapat mencegah orang melakukan perilaku berisiko,” tegasnya.
Selain menyoroti perlunya edukasi, Damayanti juga menekankan pentingnya menghilangkan stigma terhadap penyintas HIV/AIDS.
Menurutnya, banyak penyintas yang merasa minder atau malu untuk memeriksakan diri karena takut mendapat perlakuan negatif dari masyarakat.
“Untuk para penyandang HIV/AIDS, tidak perlu merasa rendah diri. Yang penting adalah tahu bagaimana menjaga diri serta mencegah penularan kepada orang lain,” jelasnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa langkah pencegahan tetap harus menjadi prioritas utama, terutama di daerah-daerah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi seperti Balikpapan.
Pemerintah daerah diminta untuk lebih agresif dalam menyosialisasikan informasi mengenai HIV/AIDS, baik kepada masyarakat umum maupun lingkungan sekolah.
“Balikpapan harus menjadi perhatian khusus. Upaya pencegahannya memang perlu ditingkatkan. Sosialisasi juga harus berlangsung secara berkelanjutan, terutama bagi anak-anak usia sekolah,” ungkapnya.
Menanggapi wacana memasukkan materi HIV/AIDS ke dalam kurikulum pendidikan, Damayanti menyatakan dukungan penuh.
Dirinya menilai bahwa anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang rentan karena kurangnya akses terhadap informasi kesehatan seksual yang akurat.
“Ini sangat penting. Anak-anak membutuhkan edukasi sejak dini. Saya mendorong adanya penambahan materi dalam kurikulum, terutama yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV/AIDS,” tambahnya.
Ia menilai pembahasan mengenai kesehatan seksual di sekolah selama ini masih terlalu dibatasi, padahal keterbukaan informasi dapat membantu generasi muda terhindar dari perilaku berisiko.
“Kita tidak bisa lagi menutup-nutupi hal ini. Edukasi justru menjadi langkah penting untuk menyelamatkan generasi muda,” pungkasnya. (adv)
Editor: Erwin