Menurutnya, peningkatan kualitas SDM merupakan agenda strategis yang tidak bisa ditunda, terutama menjelang transformasi ekonomi Kaltim dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Ia menilai penerapan program Pendidikan Gratis atau GratisPol merupakan langkah progresif pemerintah provinsi dalam membuka akses pendidikan yang lebih luas, namun menegaskan bahwa perbaikan pendidikan tidak cukup hanya melalui pembebasan biaya.
“Manusia di Kaltim sampai saat ini masih mengalami ketertinggalan kualitas. Banyak indikator yang menunjukkan hal itu,” ujarnya pada Sabtu (22/11/2025).
Darlis mengungkapkan bahwa pertumbuhan penduduk Kaltim saat ini tidak hanya dipengaruhi angka kelahiran, tetapi sangat dominan oleh arus migrasi dari luar daerah.
Fenomena tersebut, katanya, sekaligus mencerminkan adanya kesenjangan kompetensi antara tenaga kerja lokal dan pendatang. “Orang datang ke Kaltim bukan tanpa alasan. Mereka yakin bisa mendapatkan pekerjaan atau membuka usaha karena merasa mampu bersaing dengan putra-putri Kaltim. Itu bukti bahwa kualitas SDM kita masih perlu ditingkatkan,” jelasnya.
Dirinya juga menyoroti sektor usaha dan pengelolaan sumber daya alam yang hingga kini masih banyak dikuasai pelaku bisnis dari luar daerah.
Situasi serupa terlihat di dunia kerja, termasuk di kawasan sekitar IKN. “Tenaga kerja lokal sering kalah bersaing. Bahkan di wilayah penyangga IKN, banyak warga kita yang hanya mendapat pekerjaan sebagai tenaga keamanan,” tambahnya.
Menurut Darlis, pendidikan memiliki tiga fungsi fundamental ekonomi, sosial-budaya, dan politik yang berkontribusi langsung terhadap pembangunan daerah.
Dia mencontohkan negara-negara maju di Asia seperti Singapura, Jepang, dan Korea Selatan, yang berhasil tumbuh pesat meski tidak kaya sumber daya alam. “Kemajuan mereka bertumpu pada kualitas SDM. Itu jelas dan tidak bisa dibantah,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan memberikan nilai ekonomi jangka panjang, baik untuk negara maupun individu. “Investasi di bidang pendidikan selalu memberikan hasil besar. Rate of return-nya tinggi, melebihi biaya yang dikeluarkan,” katanya.
Karena itu, Darlis mengapresiasi sikap Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim yang memandang pendidikan sebagai investasi, bukan beban anggaran.
Sebagai lembaga legislatif, DPRD Kaltim memastikan akan mengawasi sepenuhnya pelaksanaan GratisPol agar berjalan efektif dan menyasar masyarakat yang membutuhkan. “Kami pastikan Gratispol akan kami kawal 100 persen. Ini program prioritas yang harus terlaksana dengan baik,” tegasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan jauh lebih kompleks daripada sekadar pembiayaan UKT atau biaya sekolah.
Darlis menjabarkan lima unsur utama yang harus dibenahi untuk memperkuat sistem pendidikan daerah:
1. Pembiayaan pendidikan
2. Kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman
3. Ketersediaan sarana dan prasarana sekolah yang memadai
4. Kualitas serta kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan
5. Akses masyarakat terhadap layanan pendidikan
Ia mencontohkan kondisi banyak sekolah di kecamatan dan pedalaman yang masih membutuhkan ruang kelas tambahan, renovasi gedung, dan peningkatan fasilitas. “Kami sering turun ke lapangan. Masih banyak sekolah yang sarana dan prasarananya minim. Ini tidak boleh dibiarkan,” ujarnya.
Meski biaya kuliah telah digratiskan, Darlis menyebut persoalan akses fisik menuju perguruan tinggi bagi warga pedalaman dan pesisir masih menjadi hambatan besar.
Biaya transportasi dan kebutuhan hidup di kota kabupaten atau provinsi masih menjadi beban bagi banyak keluarga. “Banyak orang tua kesulitan menguliahkan anaknya karena aksesnya jauh dan biaya hidup tinggi. Ini perlu perhatian pemerintah,” tuturnya.
Mengakhiri penjelasannya, Darlis kembali menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM merupakan pondasi utama bagi Kaltim memasuki era baru pembangunan, terlebih dengan hadirnya IKN dan percepatan transformasi ekonomi daerah. “Kalau kita ingin maju, pendidikan harus menjadi prioritas paling utama,” ujarnya.
Ia berharap semua pihak pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, hingga DPRD terus bersinergi memastikan Gratispol tidak hanya terlaksana, tetapi juga membawa dampak nyata bagi generasi muda Kaltim. “Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Tidak boleh ada faktor yang dikorbankan,” pungkasnya. (adv)