Pendidikan vokasi sendiri, adalah jenis pendidikan tinggi yang berfokus pada penguasaan keahlian terapan tertentu.
Ia menilai, kebijakan pendidikan gratis seperti program GratisPol tidak cukup jika tidak dibarengi dengan langkah-langkah tak strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“GratisPol itu penting, tapi yang lebih penting adalah memastikan pendidikan kejuruan relevan dengan kebutuhan industri ke depan,” ujarnya saat ditemui, Jumat (18/7/2025).
Dia juga menyoroti perlunya pembaruan kurikulum di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang menurutnya harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan arah ekonomi digital.
Politisi PKS itu mendorong agar jurusan-jurusan yang ditawarkan tidak sekadar mengandalkan bidang konvensional, melainkan diarahkan pada keahlian masa depan.
Salah satu gagasan inovatif yang diajukannya adalah pembukaan jurusan pertanian berbasis teknologi modern.
Disebutnya juga, pertanian presisi dengan pemanfaatan drone dan alat mekanisasi canggih berpotensi menjadi sektor unggulan jika didukung pendidikan yang tepat.
“Pertanian itu masa depan juga, kalau kita bekali dengan teknologi. Kita bisa dorong anak-anak SMK belajar sistem pertanian digital sejak dini,” ucapnya.
Tak hanya itu, Agusriansyah juga menekankan pentingnya menghadirkan jurusan berbasis ekonomi kreatif, seperti konten kreator dan youtuber, yang kini telah menjadi bagian dari industri besar dan menyerap banyak tenaga kerja muda.
“Buka jurusan konten kreator, jangan cuma label. Lengkapi dengan pelatihan, alat produksi, sampai sertifikasi. Supaya lulusan langsung bisa kerja,” tegasnya.
Ia mengingatkan, tanpa pembaruan serius, program pendidikan gratis bisa kehilangan makna jika lulusannya justru tak siap bersaing di pasar kerja.
Menurutnya, arah kebijakan pendidikan harus bersifat visioner, bukan hanya sebatas formalitas administratif.
“Kita harus berani berpikir jauh ke depan. Pendidikan vokasi bukan sekadar pengurangan biaya, tapi investasi untuk daya saing jangka panjang,” tandasnya.
Agusriansyah berharap pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan berani mengambil langkah progresif dalam menyusun ulang peta keahlian di SMK.
Tujuannya jelas kata Agusriansyah, yakni mencetak lulusan yang siap menghadapi revolusi industri dan tantangan global yang terus berubah. (Adv)
Editor: Erwin