Kekurangan pasokan air bersih di dua kota tersebut telah menjadi persoalan serius selama bertahun-tahun.
Di Balikpapan, ketergantungan pada sumber air dari danau di sekitar jalan tol kini dinilai tidak lagi mampu memenuhi permintaan warga yang terus bertambah.
“Memang Balikpapan dan Bontang sedang menghadapi krisis air bersih karena keterbatasan sumber air baku. Maka, pipanisasi dari Sungai Mahakam sangat layak menjadi alternatif utama,” ujar Subandi, Minggu (13/7/2025).
Dia menilai, meskipun proyek ini memerlukan investasi awal yang besar, namun secara jangka panjang lebih efisien dibandingkan pilihan teknologi lain seperti desalinasi atau pengolahan air laut.
“Saya pernah ikut forum pembahasan soal ini, dan ternyata biaya pengolahan air laut jauh lebih tinggi daripada pipanisasi. Jadi dari sisi logika dan ekonomi, pipanisasi lebih masuk akal,” jelasnya.
Sementara itu, untuk Kota Samarinda, ia memastikan program pipanisasi ini tidak akan mengganggu ketersediaan air bersih. Justru kata Subandi, kota ini akan mendapatkan tambahan intake dari beberapa lokasi untuk memperkuat suplai yang ada.
Namun, ia mengakui distribusi air bersih di Samarinda masih menghadapi kendala akibat belum rampungnya pembangunan jaringan sekunder, yang terkendala biaya.
“Kapasitas air di Samarinda sebenarnya memadai, tinggal bagaimana kita mempercepat pengembangan jaringan distribusi sekunder agar alirannya merata,” tuturnya.
Ia pun menegaskan bahwa penggunaan Sungai Mahakam sebagai sumber air baku sangat memungkinkan dilihat dari sisi teknis maupun ekonomi.
Menurutnya, jika minyak saja bisa dialirkan ke luar pulau melalui pipa, maka air pun seharusnya dapat didistribusikan dengan cara yang sama.
“Kita sebagai warga Samarinda harus ikut mendukung. Kebutuhan air bersih adalah hak dasar masyarakat, tidak hanya bagi kita di sini, tapi juga saudara-saudara kita di daerah lain,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin