Seperti yang sudah diketahui, bahwa pengentasan banjir sendiri masuk dalam program prioritas dari Wali Kota, Andi Harun, sejak awal kepemimpinan di periode pertama.
“Kita mensupport, dan alhamdulillah kemarin kita sudah tindaklanjuti. Pada saat kita RDP dengan Bidang SDA Dinas PUPR-Pera, itu kita usulkan beberapa hal, salah satunya pengentasan banjir,” kata Subandi belum lama ini.
Subandi mengaku, dirinya mengusulkan Pemprov Katim bisa membantu pembuatan polder atau kolam retensi dibagian ulunya Sungai Karang Mumus (SKM).
Karena, pada dasarnya, kata Subandi, air yang masuk ke Kota Samarinda berasal dari SKM.
Untuk saat ini Pemkot Samarinda sudah mulai membuat kolam retensi di Pampang. Namun, dia menilai daya tampung kolam tersebut juga terbatas.
“Ada bagian atas Pampang, dekat Bandara APT Pranoto, ada lahan milik Kutai Kartanegara (Kukar), seandainya Pemprov Kaltim bisa mensinergikan antara tanah Pemkab Kukar dan Pemkot Samarinda, untuk buat kolam retensi yang besar,” tuturnya.
“Istilahnya dengan daya tampung lebih besar lah, nah ini solusi banjir Samarinda inshaAllah bisa selesai. Setidaknya mengurangi dengan jumlah banyak,” lanjutnya.
Air naik ini juga sempat mengundang keributan di Kecamatan Loa Janan Ilir yang berbatasan dengan Kecamatan Loa Janan (Kukar).
Kedua pihak saling menyalahkan, kata Subandi, pihak Loa Janan (Kukar) menuduh air yang menggenangi permukiman mereka berasal dari Samarinda.
“Sementara kita melihat itu air mereka sendiri kalau mau dirunut. Solusinya ya itu kolam rentensi, itu sudah saya usulkan di RDP. Walau memang belum dimasukkan dalam anggaran 2026, tapi sudah masuk dari usulan yang harus dipertimbangkan,” tegasnya.
Dalam waktu dekat, Subandi mengaku, pihaknya sudah berbincang dengan Wali Kota Samarinda dan PUPR kota, untuk melakukan tinjauan ke beberapa titik banjir dan lokasi kolam retensi. (adv)