“Kondisnya bergelombang, ada yang berlumbang dan sebagainya. Parahnya kalau sudah hujan menjadi berlumpur akibatnya membuat susah warga yang melintas. Kasihan apalagi kalau mau pergi ke sekolah rawan jatuh,” kata Veridiana.
Demikian halnya dengan jalan ke lahan pertanian sepanjang 2 kilometer. Kondisi jalannya masih tanah sehingga kelompok tani meminta perhatian pemerintah untuk dilakukan semenisasi. Pasalnya, pentani sangat kesulitan ketika mengangkut hasil panen terlebih jarak jalan rusak cukup jauh.
Tidak hanya jalan, warga juga mengeluhkan belum adanya perhatian dari pemerintah terkait pembangunan jembatan yang merupakan penghubung antar Kampung. Akibatnya, warga membangun secara swadaya.
“Pembangunan jembatan untuk sementara masih menggunakan bahan kayu ulin dan dibangun secara gotong royong. Sumber dana sendiri didapatkan dari sumbangan kelompok tani untuk membelikan bahan-bahan,” sebut Veridiana.
Jembatan berbahan kayu yang dibangun secara gotong royong memiliki usia tidak sepanjang jembatan yang dibangun menggunakan bahan besi dan dibangun oleh tenaga profesional. Apalagi jembatan kayu tidak diperuntukkan dilintasi kendaraan dengan bobot berat. (adv/*2)
Editor: Aspian Nur