Dicontohkannya, pedangkalan di areal pelabuhan sehingga menyebabkan banyak kapal yang enggan untuk bersandar. Hal ini menjadi persoalan karena terpaksa harus menggunakan perahu tentu dengan biaya lebih.
Ia menyebutkan sempitnya lahan menjadi kendala dalam memperluas sarana dan prasarana pendukung. Padahal, potensinya cukup besar dengan target basis ekspor Kaltim karena itu diperlukan lahan yang lebih ideal.
“Lahan yang perlukan seluas 8 hekatare termasuk membangun areal parkir, kios-kios kuliner dan lainnya. Termasuk didalamnya rekonstruksi bangunan pelabuhan menjadi lebih layak sehingga bisa disandari kapal-kapal nelayan yang besar,” tuturnya.
Menurutnya, perluasan dimaksud apabila telah berjalan akan berdampak banyak terhadap pembangunan khususnya dibidang perekonomian masyarakat di daerah sekitar dan Kaltim secara keseluruhan.
Oleh sebab itu pihanya mengaku akan mendukung program pembangunan yang memberikan banyak manfaat kepada masyarakat. Akan tetapi juga perlu diperhatikan tentang bagaimana pengelolaannya dan pemeliharaannya agar benar-benar tepat guna.
“Sudah banyak contoh pembangunan infrastruktur yang menghabiskan banyak anggaran akan tetapi tidak mampu dikelola sehingga tidak memberikan manfaat apapun baik bagi pendapatan daerah maupun masyarakat, ini harus menjadi perhatian bersama,” pungkasnya.(adv/*2)
Editor: Aspian Nur