Faisal mengatakan, karena banyaknya kunjungan dari masyarakat, penting bagi pemerintah untuk memberikan perhatian serius terhadap perawatan dan pemeliharaan fasilitas masjid tersebut. "Sudah setahun sejak diresmikan, namun perawatan fasilitasnya kurang memadai," katanya pada Senin (25/9/2023).
Dia menekankan pentingnya melibatkan petugas kebersihan dan jemaah masjid untuk bersama-sama mengelola dan menjaga kebersihan masjid tersebut.
"Petugas kebersihan bekerja hanya dari Senin sampai Jumat, sehingga pada Sabtu dan Minggu tidak ada yang membersihkan. Terlebih lagi jika ada kapal yang datang, banyak penumpang kapal yang menggunakan toilet masjid itu," ungkapnya.
Faisal berharap melibatkan jemaah masjid dapat menjaga kebersihan masjid dengan lebih baik. Selain itu, ia juga menyampaikan kekhawatirannya terkait kurangnya fasilitas pengaman seperti pagar pembatas bagian bawah.
Menurutnya, kekurangan ini bisa membahayakan terutama saat malam hari ketika banyak perahu nelayan yang melintas. "Masyarakat di sana mayoritasnya nelayan, ini harus diperhatikan. Sudah ada kasus masjid tertabrak perahu nelayan pada malam hari. Pengamanan yang baik akan melindungi para nelayan dan juga memperpanjang usia konstruksi masjid," tambahnya.
Masjid yang memiliki bentuk kapal ini merupakan ikon wisata religi baru di Bontang. Pembangunannya dimulai pada tahun 2018 dengan anggaran mencapai Rp60 miliar. Tahap pertama selesai pada tahun 2019 dengan total biaya Rp 33,2 miliar, diikuti oleh tahap kedua pada tahun 2020 dengan biaya Rp 28,2 miliar, dan tahap terakhir pada tahun 2021 dengan anggaran sebesar Rp 11 miliar. (Adv)
Editor: Maruly Zainuddin