Program ini merupakan upaya pengendalian kasus Demam Berdarah Dangue (DBD) yang dinilai tinggi di Bontang dan dijadwalkan diluncurkan dengan tajuk BAWIS Bontang (Kota Bontang Berwolbachia Serentak) pada 5 September 2023 pekan depan di Kawasan Bontang Kuala.
Wolbachia sendiri adalah inovasi untuk melumpuhkan virus dengue dalam tubuh nyamuk aedes aegypti penyebab DBD sehingga virus dengue tidak akan menular ke dalam tubuh manusia
Kepala Dinas Kesehatan Bontang drg Toetoek Pribadi menjelaskan, angka DBD di Kota Taman termasuk cukup tinggi di Kalimantan Timur bahkan terdapat kasus kematian per tahunnya. Bontang pernah tertinggi se-Indonesia di tahun 2019. Sepanjang 2023 ini insiden rate DBD mencapai sekitar 156.
“Ini menjadi alasan kuat Kota Bontang dipilih menjadi pilot project bersama empat kabupaten dan kota lainnya di Indonesia,” ujar Tatoek kepada Korankaltim.com saat ditemui di Gedung PSC Dinkes Bontang, Jumat (1/9/2023) pagi tadi.
Empat kota tersebut adalah Semarang di Jawa Tengah, Jakarta Barat di DKI Jakarta, Bandung di Jawa Barat dan Kota Bontang di Kalimantan Timur. Sebelumnya di periode 2017-2020 di Jogjakarta sudah menguji metode ini dan berhasil mengendalikan angka kasus DBD.
Bahkan Wolbachia dalam Eliminasi Dengue (AWED) yaitu Wolbachia efektif menurunkan 77 persen kasus dengue dan menurunkan 86 persen tingkat rawat inap karena dengue.
Bontang merupakan kota kedua yang me-launching program ini setelah di Semarang, agenda ini dikemas dengan pemasangan rompi kepada kader, penyerahan paket ember wolbachia dari Kementerian Kesehatan kepada kader dan masyarakat.
“Dilanjutkan dengan peletakan ember wolbachia di rumah masyarakat di area launching sebagai tanda dimulainya implementasi inovasi wolbachia di Kota Bontang,” tutup Tatoek.
Editor: Aspian Nur