Apabila wacana itu benar, jarak tempuh dari Bontang – Palu hanya perlu waktu 5 jam perjalanan. Untuk Bontang – Mamuju perlu waktu 8 jam.
Harga tiket per orangnya terbilang cukup tinggi niliai Amir Tosina, tetapi hal itu sebanding dengan pelayanan yang diberikan.
“Tiket satu orang itu sekira Rp500 ribu, memang cukup tinggi. Tetapi sebanding dengan tampilan kapal dan pelayanannya saya kira. Daya tampungnya sekira 200 – 250 orang,” ujarnya. Rabu (14/4/2021).
Amir menilai tentu dengan adanya jalur pelayaran baru akan kembali menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bontang. Apabila kapal tersebut bersandar di Pelabuhan Lok Tuan.
Sedangkan dari sisi masyarakat, akan mempermudah bagi masyarakat untuk ke Palu dan Mamuju. Apalagi cukup banyak warga Sulawesi yang bermukim di Bontang serta masyarakat Bontang tidak lagi harus ke Samarinda atau Balikpapan untu menyebrang ke Palu dan Mamuju.
“Jadi tidak hanya warga Bontang saja yang bisa ke sana (Palu dan Mamuju), tapi orang dari Kutai Timur (Kutim) dan Kutai Kartanegara (Kukar) juga,” sebutnya.
Ia pun mendorong kepada Dishub untuk bisa secepatnya membuka jalur kapal Bontang – Palu – Mamuju. “Kalau bisa secepatnya dibuka yak kan,” pintanya.
Diungkapnya, pembukaan jalur ini juga menekan potensi warga nekat menyeberang menggunakan kapal kayu di bawah standar sehingga tidak aman agi keselamatan. Beberapa kali dirinya mendapat laporan ada masyarakat Bontang nekat menyebarang ke Mamuju. Ditambah kapasitas penumpang kapal selalu melebihi muatan dan beberapa diantaranya mengalami kecelakaan.
“Banyak masyarakat yang nekat menyebrang ke Mamuju menggunakan kapal kecil. Tentu saja ini sangat berbahaya. Karena masyarakat malas untuk mencari kapal ke Samarinda,” ungkapnya.(Adv/KK06)
Editor : Bambang Irawan