Sebagai wakil rakyat yang tinggal di Lok Tuan Astuti selalu dicecar pertanyaan dan mendengarkan kegelisahan warga soal pelabuhan Lok Tuan yang akan dimanfaatkan sebagai pelabuhan batu bara.
“Saya selalu mendapat mendapat pertanyaan dan keluhan. Jadi saya jawab sampai hari ini belum ada surat pemberitahuannya. Yang jelas saya menolak,” ujarnya.
Kata Astuti, tidak sedikit masyarakat yang merasa gelisah soal kabar digunakannya Pelabuhan Lok Tuan sebagi pelabuhan muat batu bara apalagi soal dampak lingkungannya.
“Cukup polusi perusahaan yang ada. jangan ditambah lagi. Jika terjadi, Lok Tuan akan menjadi Kayu Mas. Penuh debu dan pemukiman menjadi kumuh. Seperti saya waktu SD,” kenangnya.
Diungkapnya, setidaknya Tanah Datar Muara Badak sudah cukup menjadi contoh. Jalan rusak karena digunakan sebagai lalu lintas batu bara. Terlintas dalam benaknya, Lok Tuan akan menjadi seperti itu jika pelabuhan Lok Tuan jadi digunakan sebagai pelabuhan muat batu bara.
“Tolong didengarkan aspirasi masyarakat Lok Tuan soal polusi dan dampak lingkungannya nanti. Saya yakin jalan Lok Tuan akan mengalami kerusakan,” bebernya.
Senada dengan Astuti, Faisal pun menolak dengan tegas soal pelabuhan yang ada digunakan sebagai pelabuhan batu bara.
Jangan hanya memikirkan sepihak soal pendapatan daerah sehingga mengorbankan kesehatan masyarakat. Apa yang bakal didapatkan belum tentu sebanding dengan kerugian yang ditimbulkan ke depannya.
“Saya secara tegas menolak ini,” kata Faisal. (Adv/KK06)
Editor : Bambang Irawan