Atas dasar itu, anggota Komisi III DPRD Bontang, Faisal mendorong Pemkot Bontang untuk segera membangun penangkaran buaya.
“Dari Januari – Februari saja sudah ada 3 kali terjadi (serangan buaya). Tahun ini yang terbilang banyak. Jangan sampai ada korban jiwa,” ujar Faisal kepada KoranKaltim.com, Senin (1/3/2021).
Menurut Faisal, dengan adanya penangkaran nantinya ketika ada buaya yang dievakuasi dapat langsung diamankan di penangkaran tersebut. Di sisi lain, keuntungannya dapat sebagai wadah wisata. Untuk menambah pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bontang.
“Selain itu, buaya tersebut juga dapat dikembang biakkan. Dan kulitnya dapat dijual atau diolah menjadi sebuah karya. Apa lagi jika ada investor yang berminat,” sebutnya.
Faisal membeber, selain telah berkoordinasi dengan pemerintah, pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan pihak perusahaan yang ada di Kota Taman-sebutan lain Bontang. Agar pembangunan penangkaran buaya tersebut dapat segera terealisai, dan bukan hanya sebatas isapan jempol belaka. Mengingat serangan buaya terjadi di Kampung Selambai bukan yang pertama kalinya.
“Saya yakin, rusaknya habitat buaya saat ini karena berdirinya perusahaan-perusahaan,” tukasnya.
Ia mengenang, semasa kecil tidak pernah ada rasa was-was maupun ketakutan saat bermain ataupun melakukan aktivitas di laut. Diduga dengan adanya perluasan kawasan di perusahaan yang ada sehingga membuat terganggunya habitat buaya.
“Kalau dulu mau mandi tinggal nyebur. Tidak ada rasa takut. Sekarang hampir setiap hari buaya terlihat muncul dan lebih dari satu. Dan dengan ukuran yang berbeda-beda,” sebutnya.[adv/KK06]
Penulis : Abdi
Editor : Rusdi