Selain dari upaya itu, Faisal meminta kepada pemerintah kota (Pemkot) Bontang untuk membentuk tim khusus (timsus) yang menangani evakuasi buaya atau setidaknya melakukan pelatihan kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) terkait penanganan buaya.
"Anggota DPRD Bontang, Faisal saat disambangi Koran Kaltim.com (Foto: Abdi/Koran Kaltim.com)"
“Yang saya minta di sini, Bontang jangan bergantung pada BKSDA Kaltim. Bontang harus bentuk tim sendiri. Seperti Disdamkartan, sudah terbiasa menangani ular, tawon, biawak dan lainnya. Kenapa mereka (Disdamkartan) tidak dilatih menangani buaya,” ujar anggota DPRD yang bermukim di Kampung Selambai, Kelurahan Loktuan itu.
Politisi yang karap disapa Fbr ini membeber, jika selalu bergantung kepada BKSDA Kaltim, tentu akan menelan waktu yang lama. Seharusnya BKSDA bisa datang lebih awal. Namun karena masih ada kegiatan di daerah lain kedatangan BKSDA sedikit terlambat ke Bontang. “Dari TNK infonya BKSDA seharusnya Minggu (28/02), lalu (datang). Tapi karena ada pelepasan Orang Utan di Bengalon makanya sedikit molor datangnya,” bebernya.
Catatan media ini, pada 24 dan 27 Februari 2021 dua warga Kampung Selambai mendapatkan serangan buaya. Keduanya mendapatkan luka cukup serius pada bagian kaki. Beruntungnya, kedua warga tersebut masih selamat setelah melakukan perlawanan kepada predator tersebut. [adv/KK06]
Penulis : Abdi
Editor : Rusdi