Menurutnya, sejumlah RTH yang tersebar di wilayah perkotaan terlihat sepi aktivitas, kurang terawat, bahkan tidak memiliki pola pengelolaan yang jelas. Kondisi tersebut dinilai membuat tujuan pembangunan ruang publik menjadi tidak tercapai.
Sutami mengatakan, pembangunan RTH seharusnya tidak hanya berorientasi pada estetika kota, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial, sarana rekreasi masyarakat, hingga penunjang kualitas lingkungan hidup.
“Sayang sekali jika sudah dibangun, namun tidak dirawat dan tidak dimanfaatkan masyarakat. Perlu evaluasi menyeluruh agar fungsi RTH benar-benar hidup,” ujarnya.
Selama ini perhatian pemerintah lebih banyak terfokus pada pembangunan fisik dibandingkan konsep pengelolaan jangka panjang. Akibatnya, setelah proyek selesai, sejumlah fasilitas justru perlahan kehilangan fungsi karena minim aktivitas dan pengawasan.
Selain menurunkan kualitas fasilitas, kondisi RTH yang terbengkalai juga dikhawatirkan memunculkan dampak sosial lain, seperti menjadi lokasi tindakan negatif maupun area yang tidak nyaman dikunjungi masyarakat.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, dirinya mendorong pemerintah daerah agar melibatkan lebih banyak pihak dalam menghidupkan kawasan RTH. Menurutnya, komunitas seni, pelaku UMKM, hingga kelompok masyarakat dapat dilibatkan untuk menciptakan aktivitas rutin di area publik tersebut.
Dengan adanya kegiatan yang berkelanjutan, RTH dinilai tidak hanya menjadi tempat bersantai, tetapi juga mampu menggerakkan aktivitas ekonomi kecil dan memperkuat ruang interaksi warga.
Ia juga menekankan pentingnya perawatan berkala terhadap fasilitas yang sudah dibangun agar tidak cepat rusak dan tetap aman digunakan masyarakat.
Dirinya berharap evaluasi terhadap pengelolaan RTH dapat segera dilakukan, sehingga anggaran yang telah digelontorkan pemerintah benar-benar memberikan manfaat nyata bagi warga Berau, bukan sekadar menjadi elemen penghias kawasan perkotaan.
“RTH harus hidup, dimanfaatkan, dan berdampak bagi masyarakat. Kalau hanya dibangun tanpa konsep keberlanjutan, itu pemborosan,” tandasnya. (Adv)
Editor: Erwin