Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto menegaskan bahwa persoalan kekerasan seksual terhadap anak tidak bisa lagi dianggap sebagai kasus insidental yang terjadi secara terpisah. Menurutnya, fenomena tersebut telah berkembang menjadi persoalan sosial yang membutuhkan penanganan menyeluruh. “Ini sudah persoalan serius yang harus dituntaskan,” ujarnya, Kepada Korankaltim.com, Jum'at (8/5/2026).
Banyaknya kasus yang melibatkan ayah kandung, kerabat dekat, bahkan yang terbaru ini seorang guru ngaji yang juga berprofesi sebagai imam masjid, menunjukkan adanya kegagalan pengawasan dan komunikasi kepada anak. Kondisi itu membuat anak-anak kehilangan ruang aman untuk menyampaikan ketakutan atau pengalaman yang dialami.
Menurutnya, pendekatan penanganan tidak cukup hanya berfokus pada proses hukum terhadap pelaku. Upaya pencegahan harus diperkuat melalui edukasi sejak dini dan peningkatan peran keluarga dalam melindungi anak. Untuk itu, dirinya mendorong Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait agar lebih aktif memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai bentuk kekerasan seksual, tanda-tanda ancaman, hingga cara melindungi diri ketika menghadapi situasi berbahaya.
Selain itu, pendidikan kepada orang tua juga dinilai penting agar keluarga mampu menciptakan hubungan yang terbuka dengan anak. Dengan komunikasi yang baik, anak diharapkan lebih berani melapor apabila mengalami tindakan yang mengarah pada kekerasan seksual.
Pasalnya, dampak pelecehan seksual terhadap anak tidak hanya menyangkut kondisi fisik korban, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kesehatan mental dan kehidupan sosial mereka di masa depan.
Korban, kata dia, kerap mengalami trauma berkepanjangan yang memengaruhi rasa percaya diri, hubungan sosial, hingga perkembangan psikologis. Karena itu, penanganan kasus harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
Politisi Partai NasDem itupun meminta seluruh elemen masyarakat ikut berperan aktif dalam pengawasan terhadap lingkungan sekitar. Menurutnya, perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan aparat penegak hukum, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama. “Keluarga harus menjadi wadah anak-anak untuk bercerita dan berkeluh kesah,” tutupnya. (adv)