Sa'ga menyebutkan, Berau memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya dioptimalkan, mulai dari pariwisata, seni, budaya, hingga produk UMKM berbasis kearifan lokal. Menurutnya, ekonomi kreatif bukan hanya soal industri hiburan, tetapi juga mencakup kuliner, kriya, desain, dan teknologi digital yang mampu membuka lapangan kerja baru.
“Berau memiliki potensi luar biasa. Yang dibutuhkan adalah inovasi dan keberanian untuk mengembangkannya secara kreatif dan berkelanjutan,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Namun, di balik peluang tersebut, Sa'ga menyoroti belum terbentuknya ekosistem yang kuat bagi pelaku ekonomi kreatif. Ia menilai dukungan pemerintah daerah masih cenderung bersifat seremonial dan belum menyentuh kebutuhan mendasar, seperti pelatihan, pendampingan usaha, hingga akses pemasaran berbasis digital.
“Jangan hanya fokus pada kegiatan seremonial. Yang lebih penting adalah bagaimana Pemda hadir memberi ruang dan fasilitas bagi pelaku kreatif,” tegasnya.
Politisi Partai PPP itu, menekankan pentingnya peran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dalam membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Keterlibatan generasi muda dan komunitas dinilai menjadi kunci dalam melahirkan produk inovatif yang relevan dengan pasar.
Di sisi lain, Sa'ga mengingatkan adanya persoalan krusial yang berpotensi menghambat geliat ekonomi kreatif, yakni tingginya biaya transportasi menuju destinasi wisata unggulan seperti Pulau Derawan dan Maratua. Kondisi ini membuat wisatawan lebih memilih jalur alternatif melalui Tarakan.
“Secara infrastruktur kita sudah baik, tapi dari sisi biaya dan aksesibilitas kita kalah bersaing,” katanya.
Ia mencontohkan mahalnya tiket pesawat menuju Berau serta tingginya biaya sewa speedboat dibandingkan dari Tarakan. Hal ini dinilai menjadi “bottleneck” yang menghambat perputaran ekonomi, termasuk sektor kreatif yang bergantung pada kunjungan wisatawan.
Sa'ga pun mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem transportasi, baik udara maupun laut, agar Berau tidak kehilangan potensi wisatawan.
“Ini tantangan serius. Harus ada intervensi kebijakan agar Derawan tetap menjadi magnet wisata,” pungkasnya. (Adv)