Revitalisasi fisik bangunan semata tidak cukup untuk menghidupkan nilai sejarah tanpa penyajian narasi yang utuh kepada pengunjung.
Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, menyebut keberadaan dan memang menjadi simbol penting kejayaan dua kesultanan di wilayah tersebut. Namun, menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada cara pemerintah daerah mengemas sejarah agar mudah dipahami generasi muda dan wisatawan.
“Keberadaan museum itu penting, tetapi tanpa narasi yang kuat, pengunjung hanya melihat benda tanpa memahami maknanya,” ujar Sumadi.
Ia mencontohkan salah satu situs yakni nisan kuda, yang kerap disalahartikan akibat minimnya informasi resmi di lokasi. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan distorsi sejarah di tengah masyarakat.
“Banyak situs yang akhirnya ditafsirkan berbeda-beda karena tidak ada penjelasan yang memadai,” ungkapnya.
Menurutnya, pendekatan edukasi harus menjadi prioritas baru dalam pengelolaan situs sejarah. Tidak hanya melalui penyediaan papan informasi yang informatif, tetapi juga melalui penulisan buku sejarah, penyusunan katalog digital, hingga penyediaan pemandu wisata berlisensi yang memahami konteks budaya lokal.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat posisi wisata sejarah di Berau yang selama ini kalah populer dibandingkan wisata bahari. Dengan pengemasan yang tepat, wisata sejarah dapat menjadi pelengkap sekaligus penyeimbang daya tarik daerah.
Selain itu, pemerhati budaya menilai perlunya figur pemimpin di sektor terkait yang mampu mengintegrasikan pelestarian budaya dengan strategi pariwisata modern. Sinergi ini dianggap krusial untuk mendorong peningkatan kualitas destinasi sejarah.
“Dengan kurasi yang tepat, situs sejarah tidak hanya dilestarikan, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk memahami identitas Berau secara lebih utuh,” tandasnya. (Adv)
Editor: Erwin