“Saat ini di pusat ibu kota saja masih sangat minim area bermain bagi anak-anak, khususnya ruang terbuka hijau,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada keterbatasan ruang bermain, tetapi juga mengurangi kesempatan anak untuk belajar secara alami di luar lingkungan formal.
Ia menegaskan, ruang terbuka bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Meski Tanjung Redeb telah memiliki Taman Cendana dan Taman Sanggam, Grace menilai keduanya belum sepenuhnya memenuhi standar taman ramah anak.
Fasilitas yang tersedia dinilai belum cukup aman dan edukatif bagi anak usia dini. Akibatnya, anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan di PAUD cenderung bermain di lingkungan yang kurang aman dan tidak terfasilitasi.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan taman dengan konsep yang lebih terarah, seperti playground yang aman, ruang belajar terbuka, serta fasilitas pendukung yang dapat menunjang aktivitas anak secara positif. Keberadaan ruang tersebut diyakini mampu menjadi alternatif pendidikan dasar di luar sekolah dan rumah.
“Ini harus mulai dipikirkan sebagai ruang penyegaran sekaligus tempat berkumpul keluarga,” katanya.
Pihaknya menyebut pembangunan taman ramah anak tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Pemerintah daerah, kata dia, dapat menggandeng pihak ketiga melalui skema kerja sama untuk merealisasikan fasilitas tersebut.
“Tidak perlu anggaran besar. Bekerja sama dengan pihak ketiga bisa menjadi solusi,” tutupnya. (adv)
Editor: Erwin