Anggota Komisi II DPRD Berau, Fasra Wisono, menegaskan, persoalan utama bukan terletak pada pembangunan fisik, melainkan pada strategi pengelolaan yang dinilai masih lemah. Menurutnya, beberapa RTH terlihat sepi aktivitas dan minim perawatan.
“Sayang sekali jika sudah dibangun, namun tidak dirawat dan tidak dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai, RTH semestinya tidak hanya menjadi elemen estetika kota, tetapi juga berfungsi sebagai ruang publik yang hidup.
Keberadaan RTH, kata dia, bisa menjadi pusat aktivitas sosial, olahraga, seni, hingga ruang tumbuhnya kegiatan ekonomi skala kecil.
Dalam pandangannya, potensi RTH sebagai penggerak ekonomi kerakyatan masih belum tergarap optimal. Padahal, jika dikelola dengan konsep yang matang, ruang terbuka dapat menjadi wadah bagi pelaku UMKM, komunitas olahraga, komunitas seni, hingga kelompok edukasi untuk menggelar kegiatan rutin.
“Untuk menghidupkan RTH, pemerintah perlu melibatkan masyarakat. Dengan begitu, ruang terbuka hijau tidak hanya menjadi pemanis kota, tetapi benar-benar dimanfaatkan,” tegasnya.
Untuk itu, dirinya mendorong pemerintah daerah menggandeng berbagai unsur masyarakat dalam pengelolaan RTH agar tercipta rasa memiliki bersama.
Menurutnya, partisipasi publik menjadi kunci agar RTH tidak hanya ramai saat awal peresmian, tetapi berkelanjutan dalam jangka panjang.
Selain itu, dirinya juga mengingatkan pentingnya pengawasan dan perawatan berkala. Fasilitas yang rusak atau area yang kurang terawat, dinilai dapat menurunkan minat masyarakat untuk berkunjung.
“Pengawasan dan perawatan berkala juga perlu dipastikan agar area RTH tetap aman dan nyaman,” tuturnya.
Ke depan, Fasra berharap setiap pembangunan RTH disertai konsep keberlanjutan yang jelas, mulai dari perencanaan program kegiatan hingga skema pembiayaan perawatan.
“RTH harus menjadi investasi keberlanjutan. RTH harus hidup, dimanfaatkan, dan berdampak bagi masyarakat. Kalau hanya dibangun tanpa konsep keberlanjutan, itu pemborosan,” pungkasnya. (adv)
Editor: Erwin