Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Berau, Elita Herlina menilai, pendekatan yang selama ini dijalankan pemerintah daerah belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan stunting di masyarakat.
Menurutnya, angka stunting di sejumlah kecamatan masih tergolong tinggi dan membutuhkan langkah yang lebih progresif.
Penanganan stunting tidak hanya cukup melalui program rutin tahunan, melainkan harus dirancang secara inovatif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Stunting bukan sekadar persoalan gizi, tapi juga terkait pola asuh, sanitasi, dan edukasi. Pemda perlu membuat program yang kreatif dan tepat sasaran agar bisa menjawab kebutuhan di lapangan,” jelasnya, Selasa (3/2/2026).
Pola lama yang cenderung administratif dan seremonial berisiko membuat program berjalan tanpa dampak signifikan.
Sehingga, penting adanya pemetaan wilayah rawan secara detail agar intervensi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.
Sebagai contoh, penguatan edukasi gizi berbasis komunitas dengan melibatkan kader posyandu, tokoh agama, dan tokoh adat agar pesan kesehatan lebih mudah diterima masyarakat.
Selain itu, pemanfaatan teknologi informasi dinilai dapat membantu pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala di tingkat desa dan kelurahan.
“Harus ada evaluasi berkala dan inovasi konkret. Jangan sampai penanganan stunting hanya menjadi agenda tahunan tanpa perubahan signifikan,” tegasnya.
Dari sisi anggaran, Politis Partai Golkar juga meminta pemerintah daerah meningkatkan alokasi dana untuk program pencegahan stunting.
Dukungan terhadap kader posyandu, penyuluh kesehatan, hingga pemberdayaan keluarga dinilai krusial agar intervensi berjalan efektif.
Percepatan penanganan stunting tidak bisa dibebankan pada sektor kesehatan semata. Kolaborasi lintas sektor, termasuk pendidikan, pekerjaan umum, hingga peran swasta dan organisasi masyarakat, harus diperkuat.
“Ini menyangkut masa depan generasi Berau. Semua pihak harus bergerak bersama menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin