Ruang Kreatif Kurang jadi Akar Masalah Pergaulan Remaja di Berau
1 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Indri
KORANKALTI.COM, TANJUNG REDEB – Kekhawatiran terhadap meningkatnya pergaulan bebas di kalangan remaja di Kabupaten Berau selama ini kerap diarahkan pada lemahnya pengawasan keluarga.
Namun, sudut pandang berbeda justru disampaikan Anggota Komisi III DPRD Berau Oktavia menilai persoalan tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada orang tua.
Minimnya ruang kegiatan positif bagi generasi muda di Bumi Batiwakkal justru menjadi faktor yang jarang disorot, padahal memiliki pengaruh besar terhadap perilaku remaja saat ini.
Oktavia menilai perkembangan sosial anak muda yang semakin terbuka seiring kemajuan teknologi dan pergaulan global membutuhkan dukungan lingkungan yang sehat. Sayangnya, pilihan aktivitas produktif yang mudah diakses remaja masih terbatas.
“Sebelum menyalahkan anak atau orang tua, kita harus melihat situasi di sekitar. Berapa banyak ruang publik, pusat kreativitas, atau fasilitas olahraga yang benar-benar bisa diakses remaja secara gratis,” ujar Oktavia.
Ketika remaja tidak memiliki wadah untuk menyalurkan energi, minat, dan kreativitas, maka mereka cenderung mencari alternatif lain yang belum tentu positif.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko keterlibatan dalam pergaulan negatif.
Pencegahan seharusnya tidak hanya berbentuk imbauan moral atau pengawasan ketat, tetapi juga melalui penyediaan ekosistem kegiatan yang mendukung tumbuh kembang generasi muda.
Program pembinaan berbasis minat, seperti pelatihan seni, olahraga, komunitas kreatif, hingga kewirausahaan remaja dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang.
DPRD Berau mendorong pemerintah daerah agar lebih serius menghadirkan ruang publik ramah remaja di setiap kecamatan, bukan hanya terpusat di wilayah perkotaan.
Pemerataan fasilitas menjadi kunci agar seluruh generasi muda memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
"Harus ada sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah. Sebab, menjaga generasi muda tidak cukup dengan larangan," pungkas Oktavia. (Adv)
Editor: Aspian Nur










