Tekanan Fiskal Jadi Alarm Transformasi Kampung di Berau
1 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB - Keterbatasan fiskal yang tengah dihadapi Kabupaten Berau tak lagi dipandang sekadar ancaman bagi pembangunan.
Di balik penyusutan ruang anggaran, justru muncul tuntutan agar kampung-kampung mulai meninggalkan pola lama yang bertumpu pada proyek fisik dan dana transfer.
Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto, melihat situasi ini sebagai momentum perubahan arah kebijakan di tingkat kampung.
Menurutnya, tekanan keuangan daerah harus dibaca sebagai sinyal untuk memperkuat fondasi ekonomi lokal yang lebih mandiri dan adaptif.
Selama ini, pembangunan kampung kerap diidentikkan dengan pembangunan infrastruktur semata.
Padahal, tanpa penguatan sektor produktif, ketergantungan terhadap kucuran anggaran dari pusat maupun daerah akan terus berulang.
“Pelayanan itu bukan sekadar menjalankan rutinitas, tapi bagaimana mengambil kebijakan yang profesional dan progresif untuk kemajuan kampung,” tegasnya.
Dirinya mendorong, para kepala kampung agar lebih berani memetakan potensi unggulan wilayahnya.
Setiap kampung, lanjutnya, memiliki karakteristik berbeda, baik di sektor pertanian, perikanan, pariwisata, maupun ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.
Pendekatan ini dinilai lebih relevan di tengah tekanan fiskal yang disebutnya semakin drastis. Ketika anggaran terbatas, inovasi dan kreativitas menjadi kunci.
Pemerintah kampung dituntut tidak hanya menjadi pelaksana program, melainkan motor penggerak ekonomi berbasis potensi lokal.
“Terlebih, tantangan kita ke depan itu, tekanan fiskal yang sangat drastis,” tutupnya.
Editor: Erwin










